Nekat Welas Asih: Susi Pudjiastuti dan Misi Kemanusiaan Pertama ke Darah Tsunami Aceh

Redaksi

- Editor

Sabtu, 27 Desember 2025 - 21:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com, Di tengah keputusasaan pasca-tsunami Aceh Desember 2004, bantuan kemanusiaan menumpuk tak tersalurkan. Akses darat yang hancur total membuat Bandara Sultan Iskandar Muda menjadi kubangan logistik yang stagnan, sementara korban di titik-titik terpencil merintih menanti pertolongan.

Dalam vacuum itu, muncullah inisiatif seorang Susi Pudjiastuti. Dengan satu-satunya pesawat Cessna Caravan milik perusahaannya, dan dibiayai sendiri, ia bersama suaminya menerobos langit Aceh. Tujuannya: menembus blokade bencana yang tak bisa ditembus dari darat.

Hambatan langsung menghadang. Pulau Simeuleu, tujuan pertama mereka sebagai pulau terdekat episentrum, masih dinyatakan tertutup. Namun, tekad baja Susi tak surut. Esok harinya, ia berhasil mendaratkan pesawatnya di sana, menjadikannya orang pertama yang membuka akses udara langsung ke wilayah bencana.

Dengan semangat pantang menyerah, Susi bolak-balik menerbangkan pesawatnya. Setiap penerbangan mengangkut barang-barang paling krusial, mengubah logistik yang mandek di bandara menjadi bantuan hidup yang langsung menyentuh tangan korban. Kerja kerasnya menyebar dari mulut ke mulut, menjadi cerita keteladanan di tengah duka.

Misi nekat yang dilandasi welas asih ini menjadi titik balik. Ia tidak hanya menyelamatkan fisik, tetapi juga memberi pesan bahwa pertolongan harus aktif dan pantang menunggu. Nama Susi Pudjiastuti pun mulai berkibar, diawali dari dedikasinya di puing-puing Aceh.

Hingga hari ini, sosoknya tak terlupakan di hati rakyat Aceh. Ia bukan sekadar penyelamat, melainkan simbol nyata bahwa keberanian dan empatik seseorang bisa menjadi jembatan harapan ketika jalur resmi terputus dan dunia seakan berhenti berputar.KR03

Baca Juga :  Tiga Dekade Terpisah Rel Kereta, Sebuah Sketsa Mengantar Anak Itu Kembali ke Pelukan Ibu
Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengenang Karya Legendaris ‘Perempuan dari Sidimpuan’, Tantawi Panggabean Berharap Lahir Karya Baru Pembawa Nama Daerah
Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya: Filosofi Jurnalistik yang Tak Lekang Waktu” 
Perjalanan Spiritual Dian Sastrowardoyo: Dari Katolik hingga Menemukan Islam
Patung Ibrahim Aliatar di Loja: Penghormatan Spanyol pada Pejuang Muslim yang Gugur 9 Tahun Sebelum Jatuhnya Granada
Dua Gadis Tunarungu Bandung Menang Besar: Kerja Keras Membayar Lunas!
Sabai Nan Aluih: Gadis Pemberani dari Ranah Minang
Ada seorang ibu yang ingin bercerai dari suaminya. Ia kemudian berdiskusi panjang dengan saya.
18 Tahun Terdampar di Lombok, Norida Akmal Akhirnya Pulang ke Pangkuan Keluarga
Berita ini 7 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 01:21 WIB

Mengenang Karya Legendaris ‘Perempuan dari Sidimpuan’, Tantawi Panggabean Berharap Lahir Karya Baru Pembawa Nama Daerah

Senin, 30 Maret 2026 - 01:16 WIB

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya: Filosofi Jurnalistik yang Tak Lekang Waktu” 

Selasa, 24 Maret 2026 - 10:25 WIB

Perjalanan Spiritual Dian Sastrowardoyo: Dari Katolik hingga Menemukan Islam

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:20 WIB

Patung Ibrahim Aliatar di Loja: Penghormatan Spanyol pada Pejuang Muslim yang Gugur 9 Tahun Sebelum Jatuhnya Granada

Jumat, 27 Februari 2026 - 17:30 WIB

Dua Gadis Tunarungu Bandung Menang Besar: Kerja Keras Membayar Lunas!

Berita Terbaru