KompasReal.id, Pada Minggu, 15 Februari 2026, Injil dari Injil Matius 5:17-37 mengajak umat merenungkan bagaimana Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya. Yesus menegaskan bahwa inti hukum Allah bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan perubahan hati. Hukum yang semula dipahami sebagai larangan dan perintah, kini disempurnakan oleh kasih yang hidup dan nyata.
Dalam terang bacaan dari Kitab Sirakh 15:15-20, kita diingatkan bahwa Allah memberi manusia kebebasan untuk memilih: hidup atau mati, berkat atau kutuk. Kebebasan ini adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Tuhan tidak memaksa, tetapi mengundang kita untuk dengan sadar memilih jalan kasih dan kebenaran.
Yesus memperdalam makna hukum dengan menyentuh akar persoalan, yakni hati manusia. Tidak cukup hanya tidak membunuh, tetapi juga menghindari amarah dan kebencian. Tidak cukup hanya menjaga diri dari perzinahan, tetapi juga memelihara kemurnian hati dan kesetiaan. Dengan demikian, hukum kasih menuntut integritas batin, bukan sekadar citra baik di hadapan orang lain.
Renungan ini menantang kita untuk bertanya: apakah iman kita hanya sebatas ritual dan kebiasaan? Apakah doa dan ibadah sungguh mengubah cara kita memperlakukan sesama? Yesus menghendaki agar setiap perkataan dan tindakan kita lahir dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.
Akhirnya, hukum yang disempurnakan oleh kasih mengajak kita hidup sebagai murid yang otentik. Ketika kasih menjadi dasar setiap keputusan, kita tidak lagi taat karena takut hukuman, melainkan karena cinta kepada Tuhan dan sesama. Semoga Sabda hari ini menuntun kita untuk semakin memurnikan hati dan setia dalam kasih, sehingga hidup kita menjadi kesaksian nyata tentang Kerajaan Allah.
Masaaro mendrofa
Penulis : Masaaro mendrofa
Editor : EMAS
Sumber Berita: Jemaat katolik












