KompasReal.id, Di sebuah rumah sederhana yang jauh dari gemerlap dunia, hiduplah Umi Ade bersama delapan putra-putrinya. Usia tak lagi muda, namun semangatnya membesarkan generasi penghafal Al-Qur’an tak pernah pudar. Dengan segala keterbatasan, ia berhasil mendidik anak-anaknya hingga hafal kitab suci, sebuah pencapaian yang membuat iri para orang tua yang bergelimang harta. Delapan permata hati itu semuanya adalah penghafal Qur’an, cahaya Al-Qur’an menerangi setiap sudut rumah mungil mereka, meski lampu minyak kadang menjadi penerang saat listrik padam karena tak mampu membayar.
Tiga di antara mereka kini telah tumbuh menjadi ustadzah, mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak lain di lingkungan sekitar. Namun ironi kehidupan kembali menghantam, gaji mengajar yang mereka terima bahkan lebih rendah dari guru honorer, hanya cukup untuk kebutuhan pribadi yang terbatas. Pengabdian kepada agama seolah harus dibayar dengan kesabaran ekstra, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Tak jarang, honor yang diterima habis untuk ongkos perjalanan mengajar atau sekedar membeli segenggam nasi untuk dimakan sendiri, tanpa bisa berbagi banyak di rumah.
Bulan Ramadhan yang seharusnya penuh keberkahan justru menjadi ujian paling berat. Menu sahur hanya sebutir telur yang harus dibagi beramai-ramai, bukan karena ingin merasakan nikmatnya puasa sunnah, tetapi karena memang tidak ada yang bisa dimakan. Anak-anak penghafal Qur’an itu menjalani hari-hari dengan perut kosong, namun lisan mereka tak pernah berhenti melantunkan ayat-ayat suci. Di saat anak-anak lain berbuka dengan aneka hidangan manis, mereka bersyukur jika ada air putih dan sepotong kurma pemberian tetangga. Puasa mereka jalani bukan karena pilihan, tetapi karena ketiadaan.
Alhamdulillah, di tengah keprihatinan yang mendalam, uluran tangan orang baik mulai menghampiri. Seseorang yang mengetahui kondisi Umi Ade dan anak-anaknya tergerak hati untuk berbagi sedikit rezeki, memberi secercah harapan di tengah kegelapan. Bantuan itu mungkin tak seberapa bagi sebagian orang, namun bagi keluarga ini, itu adalah pertolongan Allah yang datang di saat paling dibutuhkan. Kehangatan berbagi membuat bulan Ramadhan tahun ini terasa lebih bermakna, meski masih dalam kesederhanaan.
Kisah Umi Ade dan delapan penghafal Qur’an ini menjadi cermin bagi kita semua, bahwa kemuliaan tak selalu berbanding lurus dengan kekayaan dunia. Namun harapan besar tetap tersemat, semoga para penghafal Al-Qur’an ini mendapat perhatian yang layak, dan para ustadzah yang mengajar dengan ikhlas itu mendapatkan gaji yang pantas dari pemerintah, tidak hanya bergantung pada keikhlasan orang tua murid. Mereka telah menjaga kalamullah di dada, sudah sepantasnya negara hadir memastikan perut mereka juga terisi, agar cahaya Al-Qur’an terus bersinar tanpa padam oleh lapar.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: KompasReal.id












