Pembicaraaan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Redaksi

- Penulis

Minggu, 12 April 2026 - 13:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, JAKARTA — Kegagalan pembicaraan damai antara AS dan Iran di Pakistan adalah buah dan inkonsistensi negara-negara Barat dalam mengimplementasikan Non-Proliferation Treaty (NPT).

 

Alih-alih melakukan pelucutan senjata nuklir sejak NPT ditandatangani 1968, negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat terus memperkaya uranium untuk senjata nuklir dan menyebarkan teknologi itu kepada negara-negata sekutunya. Bahkan Israel yang tidak menandatangani NPT bebas memiliki hulu ledak nuklir dan menjadi bully di kawasan.

 

“Dengan situasi ini, saya kira wajar kalau negara-negara yang merasa rentan terhadap serangan AS dan sekutu merasa harus mengembangkan persenjataan serupa sebagai faktor detterence atau pencegah,” ujar Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, kepada media, Minggu, 12 April 2026.

 

“Kalau negara-negara Barat boleh menterjemahkan doktrin si vis pacem para bellum dengan meningkatkan kapasitas militer termasuk senjata pemusnah massal, maka negara-negara lain yang tidak mau jadi korban dari agresifitas negara-negara superpower akan mendorong diri mereka untuk memiliki kapasitas serupa,” urai dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu.

 

Program Nuklir Iran

 

Teguh melanjutkan, selama ini, sebagai negara yang menandatangani dan meratifikasi NPT Iran mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, yang merupakan satu dari tiga pilar NPT.

 

“Kapasitas nuklir Iran selama ini digunakan untuk energi dan medis, yang dijamin oleh NPT. Namun, setelah serangan terbuka terhadap Iran tahun lalu dan tahun ini, wajar bila berkembang wacana lain tentang arti penting memiliki senjata nuklir untuk mencegah agresi negara lain,” masih kata Teguh.

 

Dia menggarisbawahi bahwa alm. Ali Khamenei sebelumnya mengeluarkan fatwa yang mengharamkan senjata nuklir karena dinilai berlawanan dengan prinsip perang dalam Islam.

Baca Juga :  Dirut Prima TPK Terima Silaturahmi CEO Sumut24 Group, Tegaskan Layanan Kontainer Serba Online

 

“Dalam ajaran Islam, perang dilakukan sebagai respons atas serangan pihak lain dan bersifat diskriminatif. Artinya, hanya unsur kombatan yang dapat dijadikan sasaran serangan balasan. Sementara senjata nuklir bersifat non diskriminatif yang berarti menghancurkan apapun dan siapapun,” kata dia lagi.

 

Teguh menambahkan, saat ini yang dibutuhkan adalah konsistensi AS dan sekutu dalam implementasi NPT. Tanpa itu, negara-negara lain juga akan berlomba-lomba untuk ikut mengembangkan nuklir untuk senjata pemusnah massal.

 

Saat ini ada sembilan negara yang memiliki senjata nuklir. Dua negara yang memiliki hulu ledak nuklir terbanyak adalah Rusia dan AS. Masing-masing memiliki 5.459 dan 5.227 hulu ledak nuklir. Kemudian China (600), Prancis (290), Inggris (225), India (180), Pakistan (170), Israel (90), dan Korea Utara (50).

 

“Selagi hipokrasi dan inkonsistensi terhadap implementasi NPT diteruskan, maka dunia akan menjadi arena perlombaan senjata nuklir,” demikian Teguh. []

Penulis : Kr03

Editor : Emas

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MAVI Sumut Segera Gelar Kejuaraan Voli U-15, Diikuti 35 Klub dari Berbagai Daerah*
Dirut Prima TPK Terima Silaturahmi CEO Sumut24 Group, Tegaskan Layanan Kontainer Serba Online
GREAT Institute: Tiga Prajurit TNI Gugur Terkait Perang Israel dan Iran
Smandu Fair II 2026 Ditutup, Ajang Kreativitas Siswa SMAN 2 
Silaturahmi dan Halal Bihalal, Batalyon Para Komando 463 Pasgat Pererat Sinergi dengan Media Sumut
Indonesia Minta PBB Investigasi Serangan yang Tewaskan 3 Prajurit TNI, Dubes Umar Hadi: Kami Tidak Butuh Alasan dari Israel
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan IDF ke Markas UNIFIL, GREAT Institute Sebut Kejahatan Perang
Ultah ke-49 Marlina Eliyanti, Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim, Didampingi CEO SUMUT24 Anto Genk*
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 13:54 WIB

Pembicaraaan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Sabtu, 11 April 2026 - 22:09 WIB

MAVI Sumut Segera Gelar Kejuaraan Voli U-15, Diikuti 35 Klub dari Berbagai Daerah*

Senin, 6 April 2026 - 17:46 WIB

Dirut Prima TPK Terima Silaturahmi CEO Sumut24 Group, Tegaskan Layanan Kontainer Serba Online

Jumat, 3 April 2026 - 20:37 WIB

GREAT Institute: Tiga Prajurit TNI Gugur Terkait Perang Israel dan Iran

Kamis, 2 April 2026 - 20:38 WIB

Smandu Fair II 2026 Ditutup, Ajang Kreativitas Siswa SMAN 2 

Berita Terbaru

Hukum & Kriminal

Polres Padangsidimpuan Ungkap Kasus Curas, Satu Pelaku Berhasil Diamankan

Minggu, 12 Apr 2026 - 19:34 WIB