KompasReal.id, Ida Royani bukan sekadar nama dalam lembaran sejarah musik Indonesia. Lahir di Jakarta pada 24 Maret 1953, wanita dengan nama lengkap Ida Daniel Royani ini merebut hati masyarakat era 70-an melalui duet legendaris bersama Benyamin Sueb. Lagu-lagu Betawi seperti “Gambang Kromong” tidak hanya mengukuhkan statusnya sebagai penyanyi ikonik, tetapi juga membuka jalan bagi kariernya di dunia seni peran dan politik. Namun, siapa sangka bahwa di balik gemerlap panggung, benih-benih passion untuk dunia fashion sudah mulai tumbuh dalam diri sang diva.
Tahun 1979 menjadi tonggak bersejarah dalam hidup Ida Royani ketika ia memutuskan untuk berbagi hidup dengan musisi ternama Keenan Nasution. Pernikahan mereka tidak hanya menyatukan dua talenta besar dalam industri musik Tanah Air, tetapi juga melahirkan generasi penerus yang akan membawa nama keluarga ini ke level internasional. Dari kamar kecil yang dipenuhi lembaran kain dan jarum pentul, Ida mulai merintis kariernya sebagai perancang busana muslim—sebuah langkah berani di era di mana fashion modest masih dianggap marginal.
Dari rahim seorang seniman legendaris, lahir Jenahara Nasution—wanita yang tak hanya mewarisi DNA kreativitas, tetapi juga semangat untuk mendobrak batasan. Setelah menamatkan pendidikan di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo, Jenahara tidak serta-merta berlindung di bawah bayang-bayang ketenaran ibundanya. Ia memilih untuk mengukir jejaknya sendiri dengan mendirikan label fashion “Jenahara” pada tahun 2011, membawa napas segar pada busana hijab Indonesia yang saat itu masih mencari identitas di pasar global.
Prestasi Jenahara tidak berhenti di runway atau butik mewah. Ia menjadi salah satu pendiri Hijabers Community—gerakan yang mengubah cara perempuan Indonesia memandang hijab dari sekadar kewajiban agama menjadi statement fashion yang powerful. Melalui komunitas ini, Jenahara berhasil menginspirasi jutaan perempuan muda untuk tampil percaya diri tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Keberhasilannya dalam memadukan estetika modern dengan prinsip modest fashion menjadikannya ikon generasi millennial yang tak tergantikan.
Kini, dengan dua putri tercinta—Rosemary Malika Zuri dan Chia Mahala Tavi—Jenahara melanjutkan siklus inspirasi yang dimulai oleh Ibundanya. Sementara Ida Royani tetap aktif sebagai desainer senior di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), membuktikan bahwa kreativitas tak mengenal usia. Dari panggung musik Betawi hingga podium fashion internasional, kisah dua generasi wanita ini adalah bukti nyata bahwa warisan sejati bukanlah harta materi, tetapi semangat untuk terus berkarya dan memberdayakan perempuan Indonesia—satu jahitan, satu lagu, dan satu inspirasi pada satu waktu.
—
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: Inspiratif generation












