Konflik Harimau Vs Warga, BKSDA Diminta Berbuat

KompasReal.id

- Editor

Sabtu, 28 September 2024 - 15:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa waktu lalu Seekor sapi ditemukan penuh luka di areal perkebunan karet di Dusun Sitaul-taul Desa Singengu Jae Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal, diduga diterkam binatang buas yang diperkirakan seekor harimau (foto: Warta Mandailing)

i

Beberapa waktu lalu Seekor sapi ditemukan penuh luka di areal perkebunan karet di Dusun Sitaul-taul Desa Singengu Jae Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal, diduga diterkam binatang buas yang diperkirakan seekor harimau (foto: Warta Mandailing)

KompasReal.com, Mandailing Natal – Konflik Harimau dengan warga di wilayah Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, sepertinya tak kunjung usai. Konflik yang berkepanjangan ini dalam beberapa bulan terakhir terus menjadi perbincangan dan keresahan di tengah-tengah masyarakat sekitar.

Karena sudah hampir tiga tahun berjalan, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebagai lembaga yang berwenang diharapkan bisa berbuat untuk memberikan sosialisasi maupun edukasi kepada masyarakat.

Sebab dengan kemunculan ataupun berkeliarannya hewan buas itu, warga merasa tidak nyaman dan aman bahkan takut beraktifitas di lahan perkebunan maupun persawahan milik mereka.

Kiranya, jangan warga lebih banyak di salahkan dari pada mencari solusi untuk masalah tersebut. Ada ucapan yang sering di dengar warga, munculnya Harimau Sumatera di pemukiman warga akibat terganggunya habitat mereka.

Realita yang ada, sederetan kejadian harimau sering terjadi di wilayah Kecamatan Kotanopan, mulai dari jejaknya banyak ditemukan di lahan warga, selalu menampakkan diri dan beberapa kali memangsa ternak peliharaan warga.

Informasi yang dihimpun, pada Jumat 28 Juli 2023 lalu, dua ekor sapi milik Somad warga Desa Gunungtua SM dimangsa harimau liar. Kemudian pada Selasa, 5 Desember 2023, salah seorang warga Desa Sayurmaincat Ahmad Khoir Lubis (56), kembali melihat kemunculan seekor harimau berkeliaran diperkebunan milik warga.

Kemudian seekor ternak kambing milik warga Desa Simpang Tolang Julu, ditemukan mati diduga akibat diterkam Harimau Sumatera. Pada Juli 2024 malam, binatang buas harimau itu menyambangi rumah warga di Desa Muarasiambak.

Pada Jumat, 26 Juli 2024 seekor sapi ditemukan penuh luka di areal perkebunan karet di Dusun Sitaul-taul, Desa Singegu Jae diduga diterkam binatang buas yang perkiraan seekor harimau.

Baca Juga :  Kapolda Sumut, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, Menerima Penghargaan 'Best Leadership in Law & Crime Prevention' dari CNN Indonesia Awards 2024  

Kalau masalah konflik ini di sampaikan kepada BKSDA, mereka hanya sebatas turun ke lokasi dan terkadang memasang perangkap yang biayanya tidak sedikit.

Tindakan nyata dan solusi bagaimana agar konflik ini tidak berlanjut sepertinya tidak ada.

Camat Kotanopan Agus Salim saat ditemui di kantornya, Jum,at (27/9/2024) mengatakan, menurut data yang ada, selama tiga tahun terakhir konflik harimau dengan warga sudah hampir puluhan kali terjadi.

Mulai dari penemuan jejaknya, ada warga yang melihat secara utuh wujud atau binatang harimau sampai hewan yang di lindungi ini memangsa hewan ternak.

Bukan itu saja, di Desa Hutapungkut Julu dan Hutapungkut Tonga, siswa sekolah SD di kedua desa itu sempat pindah tempat belajar ke gedung Madrasah selama dua minggu karena harimau berada di hutan belakang sekolah.

Artinya konflik ini sudah sangat merugikan warga, karena lokasinya sudah masuk dikawasan Areal Penggunaan Lain (APL).

Karenanya, Agus sangat berharap adanya tindakan pihak terkait terutama BKSDA, karena konflik sudah sering terjadi.

Dengan keberadaan harimau yang sudah mendekati pemukiman masyarakat, agar institusi yang membidangi diharapkan untuk dapat memberikan semacam penjelasan maupun edukasi kepada masyarakat bagaimana keadaan ini bisa terjadi sekaligus jika menghadapi konflik langsung dengan harimau.

“Jadi kita berharap lembaga yang berwenang memberikan penjelasan tentang itu. Kalau memang penyebabnya rusak ekosistem, iya, mari kita tunjukkan data dan lokasinya di mana tempat rusaknya hutan tersebut dan apa solusinya. Jangan-jangan jumlah harimau saat ini tidak sebanding lagi dengan luas lahan yang harus mereka huni ,” ucap Agus Salim.

Artinya, lembaga terkait harus berbuat. Jangan ketika harimau mati, warga selalu di salahkan dan di hadapkan kepada hukum. Padahal, sebelumnya tidak ada sosialisasi, tidak ada tindakan nyata terhadap konflik ini.

Baca Juga :  HUT RI ke-81 di Bukit Malintang, Sang Merah Putih Berkibar Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

“Rakyat sudah susah, jangan lagi kita bebani dengan masalah -masalah yang mereka tidak tahu ,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini peran instansi terkait sangat di harapkan masyarakat. Jangan sibuknya setelah harimau ada yang mati, tapi sebelumnya tidak ada tindakan preventif.

Artinya, perlu dukungan semua pihak dalam rangka upaya penyelamatan harimau serta menjaga kelestarian habitatnya serta menghindari terjadinya konflik antara manusia dan harimau.

Kenapa harimau selalu mendekati pemukiman masyarakat ataupun kebun-kebun yang digarap oleh masyarakat kita. Sehingga sangat diperlukan langkah ataupun solusi untuk duduk bersama mendiskusikan masalah ini.

Maksudnya, perlu ada edukasi maupun penjelasan kepada masyarakat, kenapa ini bisa terjadi dan hal-hal apa yang perlu dilakukan sehingga mereka bisa menghindari konflik terhadap harimau di wilayah desa masing-masing.

“Ayo sama – sama bergerak, harimau kita lindungi begitu juga masyarakat yang hidupnya bergantung dari hasil perkebunan dan persawahan harus merasakan rasa aman dan nyaman saat beraktivitas di lahan mereka setiap harinya. Dengan demikian penanganan konflik manusia dengan harimau dapat tertangani dengan lebih baik kedepannya ,” tuturnya.

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolres dan Bupati Tapsel Turdes Bareng, Dorong Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani
Rayakan Tradisi Mooncakes Festival di PIK Avenue
Ketua BPD Muara Batang Angkola Klarifikasi Dugaan Bunga Tanah 5 Persen Dalam Aktivitas PETI Tapsel-Madina
Dispora Madina Resmi Buka Open Turnamen Putra Mandiri Cup I Batahan, Diikuti 32 Tim
Tiga Rumah Warga Panyabungan Julu Terbakar, Dua Rumah Terpaksa Dirusak untuk Cegah Api Merembet
Wujud Syukur, Kecamatan Sinunukan Gelar Makan Bersama dan Bubarkan Panitia HUT RI ke-81
Pengibaran Bendera HUT RI ke-81, Camat Naga Juang: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Karya dan Persatuan
Camat Panyabungan Utara Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Tekankan Persatuan dan Semangat Membangun Daerah
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 22:00 WIB

Kapolres dan Bupati Tapsel Turdes Bareng, Dorong Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani

Senin, 7 September 2026 - 17:36 WIB

Rayakan Tradisi Mooncakes Festival di PIK Avenue

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:53 WIB

Ketua BPD Muara Batang Angkola Klarifikasi Dugaan Bunga Tanah 5 Persen Dalam Aktivitas PETI Tapsel-Madina

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:32 WIB

Dispora Madina Resmi Buka Open Turnamen Putra Mandiri Cup I Batahan, Diikuti 32 Tim

Minggu, 23 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Tiga Rumah Warga Panyabungan Julu Terbakar, Dua Rumah Terpaksa Dirusak untuk Cegah Api Merembet

Berita Terbaru