KompasReal.id, Suasana Ramadan di berbagai negara menghadirkan warna yang beragam namun tetap sarat makna spiritual. Di London, Inggris, kawasan pusat kota dihiasi lampu bertema Ramadan untuk kedua kalinya dalam sejarah, menandai pengakuan yang semakin luas terhadap komunitas Muslim. Masjid-masjid besar dipadati jamaah untuk salat tarawih, sementara restoran halal memperpanjang jam operasional guna melayani umat yang berbuka puasa.
Di Arab Saudi, Ramadan terasa sangat khidmat, khususnya di Masjid al-Haram, Makkah. Jutaan jamaah dari berbagai negara memadati pelataran masjid untuk menjalankan umrah dan qiyamul lail. Pemerintah setempat meningkatkan layanan transportasi, kesehatan, dan distribusi makanan berbuka gratis demi kenyamanan para tamu Allah.
Sementara itu di Turki, tradisi membangunkan sahur dengan tabuhan drum masih lestari di sejumlah kota tua. Di Mesir, lentera khas Ramadan atau “fanous” menghiasi jalan-jalan, terutama di sekitar kawasan Al-Azhar di Kairo yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kajian Islam selama bulan suci.
Di Amerika Serikat, umat Muslim memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperkuat solidaritas lintas agama. Di New York City, kegiatan buka puasa bersama digelar terbuka di ruang publik seperti Times Square, menarik perhatian masyarakat luas dan menjadi simbol keberagaman serta toleransi.
Adapun di Uni Emirat Arab, khususnya di Dubai, Ramadan diwarnai dengan tenda-tenda iftar mewah yang menyediakan hidangan internasional, namun juga tetap mengedepankan kegiatan amal. Pemerintah dan lembaga sosial aktif menyalurkan bantuan bagi pekerja dan keluarga kurang mampu, menegaskan bahwa inti Ramadan di mana pun berada tetaplah tentang kepedulian, kebersamaan, dan peningkatan kualitas spiritual.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: KompasReal.id












