Margondang Tetap Eksis dan Terjaga, Warisan Leluhur Batak Angkola Bergema di Gunung Matinggi

Redaksi

- Penulis

Senin, 16 Februari 2026 - 22:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Tradisi Margondang, salah satu adat pernikahan sakral masyarakat Batak Angkola, kembali digelar dengan penuh khidmat pada Senin, 16 Februari 2026. Pesta adat yang berlangsung di Gunung Matinggi, Kecamatan Huristak,

Kabupaten Padang Lawas ini menjadi bukti bahwa budaya leluhur tetap hidup dan terjaga di tengah arus modernisasi.
Margondang dikenal sebagai pesta adat yang sarat makna, bukan sekadar seremoni pernikahan. Prosesi ini melibatkan seluruh unsur keluarga besar dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu—kahanggi,

anak boru, dan mora—yang saling menghormati dan memperkuat ikatan persaudaraan. Nilai kebersamaan inilah yang membuat margondang tetap dihormati hingga kini.

Meski kerap dipandang sebagai pesta adat yang membutuhkan biaya besar dan terkesan mewah, masyarakat Batak Angkola memaknainya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Margondang bukan semata tentang kemegahan, tetapi tentang menjaga marwah keluarga serta mempererat silaturahmi lintas generasi, baik yang dekat maupun yang jauh.

Suasana adat semakin semarak dengan iringan gondang dan tortor atau tarian khas Batak Angkola. Seluruh anggota keluarga bergantian manortor sebagai simbol penghormatan dan doa restu bagi kedua mempelai. Dalam lingkaran tortor itulah, filosofi Dalihan Na Tolu diwujudkan secara nyata.

Pesta margondang tersebut merupakan pernikahan Rutan Pratama Napitupulu dengan Nadia Siregar. Kedua mempelai disambut hangat oleh keluarga besar dan para undangan yang datang dari berbagai daerah, menunjukkan kuatnya solidaritas kekerabatan dalam budaya Batak Angkola.

KompasReal.id yang turut hadir sebagai bagian dari keluarga besar yang diundang, menyaksikan langsung betapa adat margondang tetap dijalankan dengan penuh penghormatan. Prosesi adat berlangsung tertib, sakral, dan penuh nuansa kekeluargaan.

Di tengah perkembangan zaman yang serba praktis, eksistensi margondang menjadi penegasan bahwa warisan budaya tidak lekang oleh waktu. Selama nilai Dalihan Na Tolu terus dipegang teguh, margondang akan tetap menjadi identitas kebanggaan masyarakat Batak Angkola, dari generasi ke generasi.

Penulis : Kr03

Editor : EMAS

Sumber Berita: KompasReal

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Piaman Barayo 2026 Siap Digelar, Diprediksi Tarik Ratusan Ribu Wisatawan ke Pariaman
Perayaan Holi Viral di Sekolah Amerika
Budaya Tradisional hingga Tren Fashion Picu Viral di Media Sosial
Kenangan Indah di Balik Irama Melayu
Marpangir, Tradisi Mandi Bersama Menyambut Ramadhan di Padang Sidempuan
Menghidupkan Kembali Budaya Tiwah: Tradisi Adat Dayak yang Terlupakan di Kalimantan
Paradoks Langit Eswatini: Ketika Drone dan Sihir Berbagi Aturan yang Sama
Penemuan Seni Gua Tertua di Indonesia: Cap Tangan Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Gua Liang Metandu
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:55 WIB

Piaman Barayo 2026 Siap Digelar, Diprediksi Tarik Ratusan Ribu Wisatawan ke Pariaman

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:23 WIB

Perayaan Holi Viral di Sekolah Amerika

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:39 WIB

Budaya Tradisional hingga Tren Fashion Picu Viral di Media Sosial

Minggu, 8 Maret 2026 - 01:43 WIB

Kenangan Indah di Balik Irama Melayu

Rabu, 18 Februari 2026 - 17:09 WIB

Marpangir, Tradisi Mandi Bersama Menyambut Ramadhan di Padang Sidempuan

Berita Terbaru