Teguh Santosa: Wartawan Harus Waspadai Optik Algortima

KompasReal.id

- Editor

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Jakarta — Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, menegaskan bahwa pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bukanlah proses yang bersifat basa-basi atau sekadar formalitas belaka.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat akan wartawan yang berkualitas sama tingginya dengan kebutuhan akan kehadiran media yang profesional guna menyehatkan demokrasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Teguh Santosa dalam sambutannya pada pembukaan acara UKW hasil kerja sama JMSI dan Pikiran Rakyat di Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Dewan Pers, Profesor Komarudin Hidayat, serta jajaran penguji dan peserta.

Teguh menekankan pentingnya sinergi antara wartawan berkualitas dan media profesional agar pers nasional mampu menjadi pilar demokrasi yang sehat.

“Mestinya, wartawan yang berkualitas dan media profesional ini dapat berjalan seiring, sehingga pers nasional kita benar-benar berkualitas dan mampu menyehatkan demokrasi, bukan sekadar memproduksi kebisingan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, ia menyoroti tantangan besar industri media akibat masifnya penyebaran kabar bohong (hoaks) dan ujaran kebencian seiring kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).

Isu ini bahkan telah menjadi sorotan serius para pemimpin dunia dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81. Kini berkembangan desakan agar pengembang AI tunduk pada hukum internasional.

Lebih jauh, Teguh mengungkapkan kekhawatiran global terhadap pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) dan AI yang mulai merambah sektor keamanan strategis.

Ia mencontohkan pembahasan dalam perjanjian internasional penangkalan senjata nuklir (Non-Proliferation Treaty) mengenai potensi risiko pengambilan keputusan darurat perang yang dikendalikan secara otomatis oleh sistem mesin.

“Ada kekhawatiran jika suatu saat nanti keputusan untuk mendefinisikan ancaman dan menyatakan perang dikendalikan oleh sistem AI, hal itu bisa berakibat fatal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci di Kota Padangsidimpuan: Menghormati Jasa Pahlawan  

Menghadapi kompleksitas ruang digital saat ini, Teguh memandang pentingnya kehadiran wartawan cerdas yang gemar melakukan riset mendalam.

Budaya riset ini diyakini mampu menyelamatkan masyarakat dari jebakan optik algoritma atau yang diistilahkan sebagai algo-sapiens.

“Jika wartawannya rajin meriset, secara teoretis masyarakat akan selamat dari jebakan optik algoritma atau yang oleh Prof. Komaruddin disebut sebagai algo-sapiens,” jelasnya.

Kendati demikian, mitigasi di tingkat hilir saja belum cukup, sebab diskursus di dunia nyata dan dunia maya kini sudah tidak sejalan akibat maraknya akun anonim.

Ia mengibaratkan situasi disrupsi informasi ini seperti tsunami yang mengotori seluruh sumber air, di mana masyarakat akan tetap mencari air bersih.

Sebagai langkah mitigasi yang komprehensif, Teguh melontarkan gagasan krusial mengenai penataan ruang digital.

Ia mengusulkan pemberlakuan kebijakan satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk satu akun media sosial agar aktor di dunia maya dan dunia nyata menjadi selaras.

“Salah satu bentuk mitigasi yang mungkin kontroversial dan mohon maaf jika keliru, tetapi tetap perlu saya suarakan, adalah pemberlakuan kebijakan satu NIK untuk satu akun media sosial,” tuturnya.

Meski gagasan tersebut berisiko memicu perdebatan terkait kebebasan berpendapat, Teguh menegaskan bahwa substansi persoalannya terletak pada manipulasi algoritma yang kerap mengeksploitasi emosi publik.

“Persoalan sesungguhnya bukanlah tentang kebebasan itu, melainkan bagaimana algoritma saat ini secara manipulatif memilihkan konten-konten tertentu… sehingga energi publik habis hanya untuk membahas hal tersebut,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Dr. Teguh Santosa berharap para wartawam yang mengikuti uji kompetensi dapat terus merawat idealisme dalam menyajikan informasi berkualitas di tengah arus optik algoritma media sosial. [r]

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bersama Kapolri Baru, Andar Amin Harahap Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Politik dan Keamanan
Firli Bahuri Resmi Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude dan IPK 4,0
Dua Lokasi Berhasil Disisir, Satgas Pamtas Amankan 16,4 Kg Sabu di Perbatasan Kalbar
Lebih dari Penjaga Perbatasan, Satgas Yonif 516/CY Jadi Guru bagi Anak-anak di Asmat
Prajurit Pos Teluk Etna Dukung Penuh Pelayanan Kesehatan Puskesmas Kiruru
Pos Mayerga Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 147/KGJ Pererat Silaturahmi dengan Pemerintah Distrik Mayerga
Wujud Kepedulian TNI, Satgas Pamtas RI-PNG Kewilayahan Yonif 147/KGJ Bantu Pemakaman Masyarakat Kampung Ururu di Distrik Yamor
Dari Rival Jadi Sekutu, Begini Strategi Politik “Othello” Prabowo
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 00:59 WIB

Bersama Kapolri Baru, Andar Amin Harahap Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas Politik dan Keamanan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Firli Bahuri Resmi Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude dan IPK 4,0

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:27 WIB

Teguh Santosa: Wartawan Harus Waspadai Optik Algortima

Selasa, 29 September 2026 - 09:47 WIB

Dua Lokasi Berhasil Disisir, Satgas Pamtas Amankan 16,4 Kg Sabu di Perbatasan Kalbar

Kamis, 24 September 2026 - 00:52 WIB

Lebih dari Penjaga Perbatasan, Satgas Yonif 516/CY Jadi Guru bagi Anak-anak di Asmat

Berita Terbaru