BMKG Prediksi Indonesia Alami La Nina Akhir Tahun 2025, Akan Ada Cuaca Ekstrem?

Redaksi

- Penulis

Rabu, 8 Oktober 2025 - 20:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Indonesia akan mengalami fenomena La Nina pada akhir tahun 2025.

Menurut BMKG, prediksi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan kecenderungan ENSO Netral sepanjang tahun 2025.

“Namun demikian, terdapat sebagian kecil model iklim global yang memprediksi akan datangnya La Nina lemah di akhir tahun 2025,” bunyi keterangan BMKG dikutip dari laman resminya, Kamis (2/10/2025).

Lantas, apa itu La Nina dan apa saja dampaknya di Indonesia?

Penjelasan BMKG

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan, La Nina adalah salah satu fenomena iklim global.

“Diperkirakan akan muncul menjelang akhir 2025,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (8/10/2025).

Dia menyampaikan, fenomena La Nina ini merupakan bagian dari siklus iklim El Nino–Southern Oscillation.

“Diperkirakan akan muncul menjelang akhir 2025,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (8/10/2025).

Fenomena tersebut ditandai dengan terjadinya pendinginan suhu muka laut (SML) di Samudra Pasifik.

“Terjadi ketika suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih dingin dari normal,” ucap Guswanto.

Dia menyebut, fenomena La Nina ini biasanya terbentuk akibat adanya penguatan angin pasat atau trade winds.

Angin pasat tersebut kemudian menyebabkan air hangat terdorong menuju ke arah Pasifik barat.

“Sehingga air dingin dari kedalaman laut naik ke permukaan,” ujar Guswanto.

Hal itu membuat suhu muka laut turun atau mengalami pendinginan, hingga mengakibatkan berkurangnya pembentukan awan di Samudra Pasifik.

Namun sebaliknya, kondisi tersebut justru meningkatkan pembentukan awan dan curah hujan di wilayah Indonesia.

Dampak La Nina bagi Indonesia

Guswanto mengungkapkan, La Nina dapat memperkuat musim hujan di Indonesia yang berdampak pada berbagai sektor di masyarakat.

Baca Juga :  Polres Tapsel Tangkap Pelaku Penganiayaan Karyawan PT. TPL di Jalan Lintas Pal XI - Gunungtua

“Menurut kami dari BMKG dan berbagai model iklim global, La Nina lemah diperkirakan muncul akhir 2025 dan berpotensi memperkuat musim hujan,” tutur Guswanto.

“Dampaknya bisa positif maupun negatif,” sambungnya.

Dampak positif:

  • Pertanian: Curah hujan tinggi meningkatkan pasokan air irigasi, terutama di lahan tadah hujan. Ini bisa meningkatkan produktivitas tanaman.
  • Pasokan air: Waduk, bendungan, dan embung cepat terisi, kemudian memperkuat cadangan air bersih.
  • Energi: PLTA bisa beroperasi optimal karena pasokan air melimpah.

Dampak negatif:

  • Banjir dan tanah longsor: Curah hujan ekstrem bisa menyebabkan banjir di daerah rawan dan tanah longsor di wilayah perbukitan.
  • Pertanian: Genangan air bisa merusak tanaman dan memicu penyakit tanaman akibat kelembapan tinggi.
  • Transportasi dan infrastruktur: Jalan rusak, keterlambatan logistik, dan gangguan operasional akibat cuaca ekstrem.
  • Energi: Banjir bisa menghambat operasional pembangkit dan merusak jaringan listrik.

Puncak dan akhir musim hujan

Guswanto menjelaskan, wilayah Indonesia kini tengah memasuki musim hujan, dengan puncak dan akhir yang berbeda-beda secara umum yang terbagi sesuai Zona Musim (ZOM).

“Awal musim hujan dimulai sejak Agustus 2025 di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan, lalu meluas ke wilayah lain pada September–November 2025,” tutur dia.

Berikut ini jadwal puncak dan akhir musim hujan di Indonesia kali ini:

• Puncak musim hujan

  • November-Desember 2025: Sumatera Kalimantan.
  • Januari-Februari 2026: Jawa Sulawesi Maluku Papua.

• Akhir musim hujan

  • Maret 2025: Aceh Sumatera Utara Riau Sebagian Sumatera Barat.
  • Maret–April 2026: Kalimantan Barat Kalimantan Tengah.
  • April 2026: Banten Sebagian Jawa Barat.
  • April-Mei 2026: Sulawesi Tenggara Sebagian Nusa Tenggara Timur.
  • Mei 2026: Papua bagian tengah dan selatan Maluku bagian tenggara.

(KR/kc)

 

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Misteri Berulang di Hutan Nabundong: Mayat Ditemukan Kembali dalam Dua Pekan
BLT Dana Desa Tahap Akhir 2025 Disalurkan di Sidojadi, Kades Ingatkan Penggunaan yang Tepat
Tanpa Izin, Tanpa Takut: Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Batang Sinabuan Kembali Beroperasi
PMI Paluta Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Kebakaran Pasar Gunungtua
Pengakuan ASN Dinas Pendidikan Bogor Gegerkan Publik, Klaim Kagum karena “Kesolehan” Terbantahkan Isi Chat
DPC GCI Padangsidimpuan Peduli Bencana Banjir di Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan.
Partai Golkar Padangsidimpuan Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir, Bukti Nyata Kepedulian dan Empati
Jaringan Narkoba di Madina Terjaring: Kodim 0212/Tapsel Sikat Pengedar Sabu di Batahan
Berita ini 1 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:54 WIB

Misteri Berulang di Hutan Nabundong: Mayat Ditemukan Kembali dalam Dua Pekan

Sabtu, 20 Desember 2025 - 17:29 WIB

BLT Dana Desa Tahap Akhir 2025 Disalurkan di Sidojadi, Kades Ingatkan Penggunaan yang Tepat

Kamis, 18 Desember 2025 - 16:46 WIB

Tanpa Izin, Tanpa Takut: Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Batang Sinabuan Kembali Beroperasi

Selasa, 16 Desember 2025 - 16:33 WIB

PMI Paluta Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Kebakaran Pasar Gunungtua

Minggu, 14 Desember 2025 - 06:27 WIB

Pengakuan ASN Dinas Pendidikan Bogor Gegerkan Publik, Klaim Kagum karena “Kesolehan” Terbantahkan Isi Chat

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB