Mengapa Indonesia Perlu Memperkuat Ketahanan Pangan di Era Perubahan Iklim

Redaksi

- Penulis

Jumat, 31 Oktober 2025 - 20:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com – Ketahanan pangan nasional merupakan pilar fundamental bagi stabilitas sosial, politik, dan ekonomi sebuah negara. Bagi Indonesia, sebagai negara agraris dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, memastikan ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan bergizi seimbang adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Namun, di era ini, tantangan terbesar ketahanan pangan datang dari fenomena global yang tak terhindarkan: perubahan iklim.

​Indonesia wajib memperkuat sistem pangannya, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi sebagai investasi vital demi keberlanjutan masa depan.

​Ancaman Nyata Perubahan Iklim Terhadap Produksi Pangan

​Perubahan iklim telah mengganggu siklus alam yang menjadi dasar pertanian tradisional. Di Indonesia, dampaknya terasa melalui beberapa mekanisme utama:

  • Pola Curah Hujan yang Tidak Menentu: Fenomena El Niño (kekeringan ekstrem) dan La Niña (curah hujan tinggi dan banjir) menyebabkan ketidakpastian tanam dan panen. Kekeringan panjang dapat memicu gagal panen padi, jagung, dan kedelai, sementara banjir bandang merusak infrastruktur irigasi dan lahan pertanian yang sudah ada.
  • Kenaikan Suhu dan Hama: Kenaikan suhu rata-rata global turut memperluas habitat dan meningkatkan frekuensi serangan hama serta penyakit tanaman. Hal ini memaksa petani mengeluarkan biaya lebih besar untuk pestisida, atau berisiko mengalami penurunan drastis pada produktivitas.
  • Ancaman Pesisir dan Kelautan: Kenaikan permukaan air laut mengancam daerah pesisir yang merupakan lumbung padi dan garam. Selain itu, kenaikan suhu laut mengganggu ekosistem perikanan, menurunkan hasil tangkapan nelayan, yang secara langsung mengancam ketahanan protein hewani.

​Secara global, diperkirakan perubahan iklim berpotensi menurunkan produksi pangan hingga 30% di negara-negara tropis seperti Indonesia, sebuah angka yang mengkhawatirkan.

​Tiga Alasan Kunci Penguatan Ketahanan Pangan

​Penguatan ketahanan pangan di tengah krisis iklim bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan, didorong oleh tiga alasan utama:

Baca Juga :  Paslon Bagusi (Bersama Gus-Syahbuddin) Pilihan Terbaik Pimpin Tapsel

​1. Menjaga Stabilitas Ekonomi dan Sosial

​Gangguan pada produksi pangan secara langsung menyebabkan kenaikan harga pangan (inflasi). Ketika harga beras, cabai, atau minyak melambung, daya beli masyarakat berpenghasilan rendah akan terpukul keras, memicu kerentanan sosial dan potensi kerusuhan. Memperkuat ketahanan pangan berarti memastikan suplai domestik stabil, mengurangi ketergantungan impor, dan meredam gejolak harga yang mengancam stabilitas ekonomi makro.

​2. Mewujudkan Kedaulatan Pangan Jangka Panjang

​Indonesia adalah salah satu negara dengan konsumsi beras per kapita yang tinggi. Ketergantungan pada satu komoditas ini menjadikannya sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat iklim. Penguatan ketahanan pangan harus mencakup diversifikasi pangan. Dengan mempromosikan dan mengembangkan komoditas lokal yang lebih adaptif terhadap iklim (seperti sagu, ubi, atau sorgum), Indonesia dapat mengurangi risiko ketergantungan dan membangun kedaulatan pangan berbasis keragaman lokal.

​3. Adaptasi dan Mitigasi yang Terintegrasi

​Meningkatkan ketahanan pangan adalah bagian integral dari strategi adaptasi perubahan iklim nasional. Hal ini membutuhkan inovasi teknologi yang harus segera diakselerasi:

  • Benih Unggul: Pengembangan varietas padi, jagung, dan komoditas lain yang tahan terhadap kekeringan, genangan, dan suhu ekstrem.
  • Teknologi Pertanian Cerdas Iklim: Penerapan irigasi hemat air, sistem peringatan dini iklim, dan penggunaan sensor untuk optimasi penggunaan pupuk.
  • Perbaikan Infrastruktur: Revitalisasi dan pembangunan sistem irigasi yang mampu mengelola air secara efisien, baik saat musim kemarau maupun banjir.

​Dengan mengambil langkah-langkah ini, Indonesia tidak hanya melindungi pasokan makanan, tetapi juga melindungi mata pencaharian jutaan petani dan nelayan yang menjadi garda terdepan sistem pangan. (KR/gm)

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menakar Efektivitas PP No. 42 Tahun 2025: Apakah Kenaikan Tunjangan Menjamin Keadilan yang Bersih?
Menakhodai Demokrasi dari ‘Kontes Popularitas’ ke ‘Filter Kualitas’
Menaklukkan Hawa Nafsu Keserakahan Diri Sendiri
Hari HAM Sedunia: Di Balik Peringatan, 400 Nasib yang Masih Menggantung
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Tapanuli Raya di Ambang Ambruk: Banjir–Longsor Adalah Tagihan dari Hutan yang Dirampas”
Kompas Real Harus Berdiri Sebagai Suara Independen, Bukan Sebagai Penyiar Pemerintah
Ketika Media Online Kehilangan Jiwa: Tantangan Independensi di Era Cepat Tayang”
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:47 WIB

Menakar Efektivitas PP No. 42 Tahun 2025: Apakah Kenaikan Tunjangan Menjamin Keadilan yang Bersih?

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:56 WIB

Menakhodai Demokrasi dari ‘Kontes Popularitas’ ke ‘Filter Kualitas’

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:21 WIB

Menaklukkan Hawa Nafsu Keserakahan Diri Sendiri

Rabu, 10 Desember 2025 - 08:22 WIB

Hari HAM Sedunia: Di Balik Peringatan, 400 Nasib yang Masih Menggantung

Selasa, 9 Desember 2025 - 20:38 WIB

Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum

Berita Terbaru