Inyiak Upiak Palatiang: Pendekar Perempuan Legendaris Minangkabau yang Jadi Maestro Seni dan Penjaga Tradisi

KompasReal.id

- Editor

Senin, 17 November 2025 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com,Sumbar–Suku Minangkabau kembali menegaskan identitasnya sebagai tanah yang melahirkan perempuan-perempuan tangguh dan berpengaruh. Selain sosok besar seperti Rasuna Said, Roehana Koeddeos, dan Rahmah El Yunusiyah, terdapat satu nama yang tak kalah monumental namun jarang disorot publik: Inyiak Upiak Palatiang, seorang pendekar perempuan sekaligus maestro seni tradisi Minang yang mewariskan jejak luar biasa bagi kebudayaan Nusantara.

Lahir di Tanah Datar, Sumatra Barat, tahun kelahiran Inyiak tidak pernah tercatat, bahkan oleh dirinya sendiri. Ia hanya mengingat bahwa ketika gempa besar Padang Panjang 1926 terjadi, anaknya telah berusia sekitar sepuluh tahun. Dari perkiraan itu, ketika menghembuskan napas terakhir pada 9 Mei 2010, usia Inyiak dipercaya telah melampaui satu abad, mencapai sekitar 110 tahun. Sosok renta namun berjiwa muda ini dikenang sebagai perempuan yang keras, disiplin, ceria, dan kuat memegang nilai adat Minangkabau.

Sebagai pendekar perempuan, kiprah Inyiak Upiak begitu dihormati. Ia menguasai Silek Gunuang, salah satu aliran silat tertua dan paling berpengaruh di Minangkabau. Dengan tiga jurus dasar—tangkok, piyuah, dan gelek—aliran ini menjadi induk dari berbagai cabang silat lain di Ranah Minang. Keahliannya bahkan pernah dipertontonkan pada acara Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (PASTI) Minangkabau tahun 2003. Di antara 79 pendekar dari berbagai aliran, Inyiak adalah satu-satunya perempuan yang tampil, memukau penonton dengan kelincahan dan sorotan matanya yang tajam, meski usianya saat itu telah jauh melewati 100 tahun.

Lebih dari sekadar pendekar, Inyiak adalah seorang filsuf silat. Baginya, silat bukanlah ajang pamer kekuatan, melainkan ruang untuk memperkokoh persaudaraan. “Silat dilahirkan untuk mencari kawan, dan di batinnya mencari Tuhan,” tutur Inyiak. Ia menegaskan bahwa silat bukan ilmu untuk melukai orang, tetapi membunuh sifat-sifat buruk dalam diri manusia—iri, dengki, sombong, dan buruk sangka. Baginya, silat adalah ilmu Tuhan: runcing tapi tak menusuk, tajam tapi tak menyayat.

Tak hanya menguasai beladiri, Inyiak Upiak juga seorang maestro seni Minang. Ia menciptakan ratusan syair dendang saluang dan pantun randai yang hingga kini masih diwariskan secara turun-temurun. Syairnya melankolis, penuh filosofi, dan lahir dari pengalaman batin, gejala alam, hingga tragedi yang pernah terjadi. Gunung Singgalang menjadi sumber inspirasi utamanya. Banyak dendang legendaris—Singgalang Kubu Diateh, Singgalang Gunung Gabalo Itiak, Singgalang Ratok Sabu, hingga Indiang Batipuah—lahir dari perempuan luar biasa ini.

Baca Juga :  Kodim 0212/Tapsel Bekuk Bandar Narkoba di Dua Lokasi Berbeda

Dalam kesehariannya, Inyiak berprofesi sebagai dukun beranak yang disegani masyarakat. Ia dikenal riang, aktif, dan pekerja keras. Hingga usia senja, ia masih pergi ke sawah menyiangi padi dan mengurus rumah seperti perempuan Minang lainnya. Keteguhan hati, kegigihan, dan kecintaannya pada tradisi membuatnya menjadi simbol perempuan Minang yang sesungguhnya—kuat, berbudaya, dan bersahaja.

Warisan Inyiak Upiak Palatiang bukan sekadar catatan sejarah, melainkan teladan yang menginspirasi generasi hari ini untuk merawat budaya dan menghormati akar tradisi. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa kekuatan perempuan bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada keteguhan jiwa, kecerdasan seni, dan dedikasi menjaga warisan leluhur. Sosoknya adalah bukti bahwa perempuan Minang selalu memiliki tempat khusus sebagai penjaga martabat, adat, dan seni budaya bangsa.TIM Redaksi

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolres dan Bupati Tapsel Turdes Bareng, Dorong Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani
Rayakan Tradisi Mooncakes Festival di PIK Avenue
Ketua BPD Muara Batang Angkola Klarifikasi Dugaan Bunga Tanah 5 Persen Dalam Aktivitas PETI Tapsel-Madina
Dispora Madina Resmi Buka Open Turnamen Putra Mandiri Cup I Batahan, Diikuti 32 Tim
Tiga Rumah Warga Panyabungan Julu Terbakar, Dua Rumah Terpaksa Dirusak untuk Cegah Api Merembet
Wujud Syukur, Kecamatan Sinunukan Gelar Makan Bersama dan Bubarkan Panitia HUT RI ke-81
Pengibaran Bendera HUT RI ke-81, Camat Naga Juang: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Karya dan Persatuan
Camat Panyabungan Utara Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Tekankan Persatuan dan Semangat Membangun Daerah
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 22:00 WIB

Kapolres dan Bupati Tapsel Turdes Bareng, Dorong Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani

Senin, 7 September 2026 - 17:36 WIB

Rayakan Tradisi Mooncakes Festival di PIK Avenue

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:53 WIB

Ketua BPD Muara Batang Angkola Klarifikasi Dugaan Bunga Tanah 5 Persen Dalam Aktivitas PETI Tapsel-Madina

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:32 WIB

Dispora Madina Resmi Buka Open Turnamen Putra Mandiri Cup I Batahan, Diikuti 32 Tim

Minggu, 23 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Tiga Rumah Warga Panyabungan Julu Terbakar, Dua Rumah Terpaksa Dirusak untuk Cegah Api Merembet

Berita Terbaru