Katjoeng: Dari Jatibarang ke Paramaribo — Jejak Kecil yang Menggema di Dua Benua”

KompasReal.id

- Editor

Senin, 17 November 2025 - 10:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com–,Kisah Katjoeng adalah kisah tentang seorang pemuda kecil dari Jatibarang yang menyeberangi dua benua tanpa pernah tahu ke mana takdir akan membawanya. Di antara angin Laut Jawa dan kabut pagi Brebes, namanya dulu hanya dibisikkan lirih — seakan menjadi doa yang belum selesai. Namun dari langkah kecil seorang anak muda berusia delapan belas tahun itulah sejarah panjang perantauan Jawa di Suriname menemukan salah satu nadinya.

Pada 1927, Katjoeng menjejak kapal SS Kangean menuju Paramaribo. Di atas kertas ia “kontrak kerja”, namun kenyataannya ia meninggalkan rumah tanpa jaminan kembali. Tubuhnya kecil, wajahnya memiliki luka tipis di pipi kiri — satu-satunya ciri yang dicatat pemerintah kolonial. Ia berangkat bersama ratusan pemuda lain, membawa harapan yang tipis dan masa depan yang tak terbayang.

Setibanya di Suriname, Katjoeng ditempatkan di perkebunan Geyersvlijt. Hari-harinya dipenuhi matahari yang membakar dan tebu yang tak ada habisnya. Ia bekerja dari fajar hingga senja, memeluk sabit di satu tangan dan kerinduan pada kampung halamannya di tangan yang lain. Kontraknya selesai pada 18 Juli 1932, namun kapal untuk kembali tak pernah datang. Dalam arsip kolonial hanya ada satu kalimat pendek: “Schip terugkeer onbekend” — kapal pulang tidak diketahui.

Seperti banyak buruh Jawa lainnya, Katjoeng memilih ikut arus takdir dan bertahan di tanah asing. Tahun-tahun berikutnya mengalir pelan di bawah langit Karibia. Pada 1948, ia menikah dengan seorang perempuan bernama Nelly, dan dari keduanya lahirlah Roekinem — awal dari generasi baru keluarga Katjoeng yang berakar di dua tanah air: Jawa dan Suriname. Meski hidupnya tak tercatat besar, jejaknya menyebar melalui darah yang diwariskannya.

Baca Juga :  Diduga Puluhan Tahun PT Hexasetia Sawita di Paluta Beroperasi Tanpa HGU

Catatan kolonial terakhir mencatat namanya pada 1958, lalu sunyi. Tak ada makam yang pasti, tak ada foto terakhir, hanya ingatan samar tentang seorang lelaki kecil dengan pipi bertanda luka. Namun sejarah manusia tidak selalu berakhir di arsip. Sebagian hidup kembali melalui tangan mereka yang menelusuri jejaknya.

Pada 2018, pencarian itu dilakukan oleh Karmin dari Pesona Ketanggungan. Dunia digital membuka pintu yang dulu mustahil dijangkau. Dua nama ditemukan: Marciano Katjoeng dan Ichfa Katjoeng — cicit dari lelaki kecil yang pernah menatap samudra dengan keberanian besar. Dari potret mereka terlihat kehidupan yang hangat, penuh cahaya, jauh dari kerasnya perkebunan masa kolonial.

Dan ketika wajah Marciano diperhatikan lebih dekat, lekuk rahangnya, sorot matanya yang teduh namun tegas — semuanya seperti membawa kembali bayangan Katjoeng muda di geladak kapal. Seakan empat generasi tidak pernah memudarkan garis itu. Lewat nama “Katjoeng” yang masih mereka sandang, sejarah pun kembali bergetar, mengingatkan kita bahwa kisah-kisah besar sering lahir dari langkah-langkah kecil yang berani.TIM Redaksi

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolres dan Bupati Tapsel Turdes Bareng, Dorong Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani
Rayakan Tradisi Mooncakes Festival di PIK Avenue
Ketua BPD Muara Batang Angkola Klarifikasi Dugaan Bunga Tanah 5 Persen Dalam Aktivitas PETI Tapsel-Madina
Dispora Madina Resmi Buka Open Turnamen Putra Mandiri Cup I Batahan, Diikuti 32 Tim
Tiga Rumah Warga Panyabungan Julu Terbakar, Dua Rumah Terpaksa Dirusak untuk Cegah Api Merembet
Wujud Syukur, Kecamatan Sinunukan Gelar Makan Bersama dan Bubarkan Panitia HUT RI ke-81
Pengibaran Bendera HUT RI ke-81, Camat Naga Juang: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Karya dan Persatuan
Camat Panyabungan Utara Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Tekankan Persatuan dan Semangat Membangun Daerah
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 22:00 WIB

Kapolres dan Bupati Tapsel Turdes Bareng, Dorong Hilirisasi Kopi untuk Kesejahteraan Petani

Senin, 7 September 2026 - 17:36 WIB

Rayakan Tradisi Mooncakes Festival di PIK Avenue

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:53 WIB

Ketua BPD Muara Batang Angkola Klarifikasi Dugaan Bunga Tanah 5 Persen Dalam Aktivitas PETI Tapsel-Madina

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:32 WIB

Dispora Madina Resmi Buka Open Turnamen Putra Mandiri Cup I Batahan, Diikuti 32 Tim

Minggu, 23 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Tiga Rumah Warga Panyabungan Julu Terbakar, Dua Rumah Terpaksa Dirusak untuk Cegah Api Merembet

Berita Terbaru