“Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”: Refleksi Kesaktian di Tengah Tantangan

KompasReal.id

- Penulis

Selasa, 30 September 2025 - 23:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Lufti Pramitha Nasution

KompasReal.com – Setiap tanggal 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila, sebuah momen krusial untuk mengenang sejarah kelam G30S dan meneguhkan kembali komitmen kita terhadap ideologi negara.

Tahun ini, peringatan Hari Kesaktian Pancasila mengusung tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”.

Tema ini mengajak kita untuk merenungkan peran sentral Pancasila dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, adil, dan makmur.

Pancasila sebagai Jati Diri dan Pemersatu Bangsa

Pancasila bukan sekadar rumusan kata-kata atau simbol negara. Ia adalah jati diri bangsa Indonesia, hasil kristalisasi nilai-nilai luhur yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat kita sejak lama.

Pancasila adalah common platform, titik temu dari berbagai perbedaan suku, agama, ras, dan golongan yang ada di Indonesia.

Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang semakin deras, Pancasila menjadi benteng kokoh yang melindungi kita dari ideologi-ideologi transnasional yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah mufakat, toleransi, dan keadilan sosial adalah perekat yang mengikat kita sebagai satu bangsa Indonesia.

Tantangan dan Ujian bagi Kesaktian Pancasila

Namun, kesaktian Pancasila tidak datang dengan sendirinya. Ia harus terus diuji dan diperkuat melalui tindakan nyata.

Saat ini, kita menghadapi berbagai tantangan yang menguji komitmen kita terhadap Pancasila. Intoleransi, radikalisme, ujaran kebencian, dan berita bohong (hoaks) menjadi ancaman serius bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesenjangan sosial ekonomi yang masih lebar, praktik korupsi yang belum tuntas diberantas, serta polarisasi politik yang semakin tajam juga menjadi ujian bagi kesaktian Pancasila.

Jika kita tidak mampu mengatasi tantangan-tantangan ini, cita-cita Indonesia Raya hanya akan menjadi mimpi belaka.

Baca Juga :  Golkar Tapsel: 29 Tahun Berbagi, Santunan Yatim Piatu Perkuat Komitmen Sosial dan Soliditas Partai

“Pancasila Perekat Bangsa”: Aksi Nyata untuk Indonesia Raya

Tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya” harus kita terjemahkan dalam aksi nyata.

Pertama, kita harus memperkuat pendidikan Pancasila di semua tingkatan, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

Generasi muda harus memahami dan menghayati nilai-nilai Pancasila, serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, kita harus aktif dalam membangun dialog dan toleransi antarumat beragama, suku, dan golongan. Perbedaan adalah kekayaan bangsa, bukan sumber konflik.

Kita harus saling menghormati dan menghargai perbedaan, serta menjunjung tinggi semangat persaudaraan.

Ketiga, kita harus berani melawan segala bentuk intoleransi, radikalisme, ujaran kebencian, dan hoaks yang dapat memecah belah bangsa.

Kita harus cerdas dalam memilah informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Keempat, kita harus berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi yang berkeadilan sosial. Kesenjangan sosial ekonomi harus kita atasi dengan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta memberikan akses yang sama bagi semua warga negara.

Hari Kesaktian Pancasila adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen kita terhadap ideologi negara.

Dengan semangat “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”, mari kita bersatu padu membangun Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berdaulat.

Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya !

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menakar Efektivitas PP No. 42 Tahun 2025: Apakah Kenaikan Tunjangan Menjamin Keadilan yang Bersih?
Menakhodai Demokrasi dari ‘Kontes Popularitas’ ke ‘Filter Kualitas’
Menaklukkan Hawa Nafsu Keserakahan Diri Sendiri
Hari HAM Sedunia: Di Balik Peringatan, 400 Nasib yang Masih Menggantung
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Tapanuli Raya di Ambang Ambruk: Banjir–Longsor Adalah Tagihan dari Hutan yang Dirampas”
Kompas Real Harus Berdiri Sebagai Suara Independen, Bukan Sebagai Penyiar Pemerintah
Ketika Media Online Kehilangan Jiwa: Tantangan Independensi di Era Cepat Tayang”
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:47 WIB

Menakar Efektivitas PP No. 42 Tahun 2025: Apakah Kenaikan Tunjangan Menjamin Keadilan yang Bersih?

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:56 WIB

Menakhodai Demokrasi dari ‘Kontes Popularitas’ ke ‘Filter Kualitas’

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:21 WIB

Menaklukkan Hawa Nafsu Keserakahan Diri Sendiri

Rabu, 10 Desember 2025 - 08:22 WIB

Hari HAM Sedunia: Di Balik Peringatan, 400 Nasib yang Masih Menggantung

Selasa, 9 Desember 2025 - 20:38 WIB

Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum

Berita Terbaru