Mantan Aktivis IMM, Riski Abadi Rambe, ingatkan agen perubahan untuk fokus pada kebijakan, bukan menyerang pribadi pemimpin
KompasReal.id, Tapanuli Selatan – Kritik terhadap jalannya pemerintahan adalah hak sekaligus kewajiban setiap warga negara, termasuk para aktivis dan mahasiswa. Namun, kritik yang disampaikan harus tetap menjunjung tinggi adab, didasari data, serta tidak berubah menjadi serangan terhadap pribadi seseorang.
Hal ini ditegaskan oleh politisi muda asal Tapanuli Selatan (Tapsel), Riski Abadi Rambe, yang juga mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
“Silakan berbicara setajam dan sepedas apa pun kepada pemerintah hari ini. Namun, pastikan setiap kalimat yang disampaikan sudah melalui kajian, analisis, dan evaluasi yang berbasis data. Jangan hanya berisi retorika kosong semata,” tegas Riski, Senin (15/6/2026).
Ia menambahkan bahwa ruang untuk mengoreksi kebijakan tetap terbuka lebar. “Kami siap mendengarkan bahkan bersama-sama melakukan kajian mendalam demi kemajuan daerah dan bangsa. Namun, batasannya jelas, hentikan serangan terhadap pribadi atau kepribadian seseorang,” ujarnya.
Pernyataan ini disampaikan Riski menanggapi kasus yang belakangan ramai dibahas, di mana Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dianggap mengeluarkan pernyataan yang menyerang pribadi Presiden Prabowo Subianto dengan sebutan yang tidak pantas.
Sebagai mantan aktivis yang juga pernah menjadi bagian dari gerakan mahasiswa di Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara, Riski menyayangkan sikap tersebut.
“Sebagai kontrol sosial dan agen perubahan, aktivis seharusnya menjadi teladan dalam menyampaikan aspirasi. Sangat tidak pantas jika kritik justru berubah menjadi hinaan pribadi terhadap pemimpin bangsa. Siapa pun yang dikritik, bahasa yang digunakan harus tetap beradab dan beretika,” ucapnya.
Menurut Riski, hal yang layak diangkat ke publik adalah penilaian terhadap program kerja pemerintah.
Jika sebuah kebijakan dinilai kurang tepat, kurang sesuai, atau tidak membawa manfaat nyata bagi masyarakat, maka sampaikanlah disertai fakta temuan di lapangan, lengkap dengan usulan solusi yang saling menguntungkan.
“Kritiklah kebijakannya, kritiklah progres kerjanya, bukan menghina orangnya. Berikan masukan apa yang harus diperbaiki agar hasilnya lebih baik,” jelasnya.
Melalui pernyataan ini, Riski mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa, khususnya yang ada di wilayah Tapanuli Selatan, untuk tidak meniru gaya penyampaian yang dinilai tidak mendidik tersebut.
Ia juga mengimbau agar seluruh pihak mengecam pernyataan yang menjurus ke serangan pribadi.
“Kalau sudah menyerang pribadi, itu bukan lagi kritik membangun, bukan lagi penilaian terhadap program pemerintah. Itu hanya akan memecah belah dan menutup ruang dialog. Mari kita jadikan kritik sebagai jalan memperbaiki bangsa, bukan menjatuhkan martabat sesama,” pungkas Riski. (KR02)
Editor : Paruhum












