KompasReal.id, Padang – Wartawan senior Sumatra Barat, H. Fachrul Rasyid, pernah berpesan, “Wartawan harus tahu dulu baru bertanya.” Filosofi ini menjadi pedoman bagi banyak wartawan, termasuk Muhammad Subhan, dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Menurut Subhan, seorang wartawan harus mengisi dirinya dengan pengetahuan terkait topik yang akan digali sebelum mewawancarai narasumber. Ini berarti wartawan harus riset, membaca, dan menyiapkan daftar pertanyaan kunci.
“Wartawan tidak boleh ‘kosong’ saat mendatangi narasumber. Ia harus ‘berisi’ dengan pengetahuan sehingga wawancara menjadi lebih dari sekadar tanya jawab,” tulis Subhan.
Subhan juga menekankan pentingnya mengenal narasumber, memahami latar belakang, posisi, dan kepentingannya. Teknik wawancara yang baik tidak hanya soal daftar pertanyaan, tetapi juga tentang sikap dan etika.
Dalam praktiknya, wartawan kerap menghadapi situasi tidak ideal, seperti narasumber yang memberikan jawaban keliru. Di sinilah disiplin jurnalistik diuji. Wartawan harus mencatat dan memverifikasi informasi dengan data lain.
“Jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang mengikuti jejak peristiwa hingga tuntas, bukan sekadar memungut sensasinya di awal lalu meninggalkannya begitu saja,” tegas Subhan.
Filosofi “Wartawan harus tahu dulu baru bertanya” mengandung tanggung jawab besar: menyajikan kebenaran yang tidak sekadar benar, tetapi juga adil. 🌟
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: KompasReal.id












