Kejanggalan Data PBI: Jika 143,9 Juta Penerima, Separuh Penduduk RI Masuk Kategori Tidak Mampu

Redaksi

- Penulis

Selasa, 10 Februari 2026 - 04:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id. Sorotan tajam datang dari DPR RI terkait angka kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional. Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, mempertanyakan validitas data yang menyebut jumlah penerima PBI mencapai 143,9 juta jiwa, angka yang dinilai janggal dan perlu penjelasan serius dari pemerintah.

Rieke membandingkan jumlah penerima PBI tersebut dengan estimasi jumlah penduduk Indonesia sekitar 287 juta jiwa. Jika angka itu benar, maka sekitar 50,31 persen penduduk Indonesia tercatat sebagai penerima bantuan iuran. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang peta kemiskinan nasional. “Artinya, apakah jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini 50,31 persen?” ujar Rieke dalam rapat pimpinan DPR di Kompleks Parlemen.

Menurutnya, data tersebut membuka dua kemungkinan besar. Pertama, kondisi ekonomi masyarakat memang sedang sangat berat. Kedua, terdapat ketidaktepatan atau masalah serius dalam sistem pendataan sosial yang digunakan pemerintah. Ia menegaskan, data PBI tidak bisa dipandang sekadar angka administratif karena menjadi dasar kebijakan perlindungan sosial negara.

Rieke juga mempertanyakan implikasi klasifikasi ekonomi nasional jika separuh penduduk masuk kategori tidak mampu. “Kalau 50,31 persen penduduk tidak mampu, kategori negara kita ini apa?” katanya. Ia mendorong adanya klarifikasi dan sinkronisasi data lintas kementerian agar kebijakan sosial dan fiskal tidak meleset sasaran.

Lebih jauh, Rieke menekankan bahwa persoalan PBI berkaitan langsung dengan hak masyarakat atas layanan kesehatan. Ia mendukung penuh reaktivasi peserta PBI yang sempat dinonaktifkan, terutama bagi pasien penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan. “Saya sepakat reaktivasi peserta yang dinonaktifkan segera. Karena ini persoalan nyawa,” tegasnya.

Dalam rapat tersebut, Rieke juga memaparkan estimasi kebutuhan anggaran masa transisi untuk menjamin layanan peserta penyakit katastropik selama tiga bulan. Dengan perkiraan 120.472 peserta dan iuran Rp42.000 per bulan, total anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp15,1 miliar. Menurutnya, angka ini relatif kecil dibanding skala APBN. “APBN bukan uang saya, bukan uang kita, tapi uang rakyat,” pungkasnya.

Penulis : Edy siregar

Editor : EMAS

Sumber Berita: Media online,com

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satgas Yonif 643/WNS Gagalkan Peredaran Ganja di Perbatasan Papua, 3 Pelaku Diamankan Termasuk WNA
Pemerintah Resmi Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Progres Jembatan Bailey Kodam IM Capai 53,4 Persen, 39 Unit Sudah Bermanfaat Bagi Masyarakat Aceh
Bersama Meriahkan Paskah, Satgas Yonif 123/Rajawali Gelar Lomba Tarik Tambang di Mappi
Prabowo Tegaskan Program MBG Tetap Berjalan di Tengah Efisiensi Anggaran
Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Meningkat, Puncak Diprediksi Akhir Maret
Brigjen Pol. Jermias Rontini Resmi Jabat Kapolda Papua Tengah, Putra Asli Papua yang Pecahkan Rekor
Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 25 Maret 2026 - 12:08 WIB

Satgas Yonif 643/WNS Gagalkan Peredaran Ganja di Perbatasan Papua, 3 Pelaku Diamankan Termasuk WNA

Rabu, 25 Maret 2026 - 11:30 WIB

Pemerintah Resmi Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Senin, 23 Maret 2026 - 21:33 WIB

Progres Jembatan Bailey Kodam IM Capai 53,4 Persen, 39 Unit Sudah Bermanfaat Bagi Masyarakat Aceh

Senin, 23 Maret 2026 - 13:25 WIB

Bersama Meriahkan Paskah, Satgas Yonif 123/Rajawali Gelar Lomba Tarik Tambang di Mappi

Senin, 23 Maret 2026 - 10:38 WIB

Prabowo Tegaskan Program MBG Tetap Berjalan di Tengah Efisiensi Anggaran

Berita Terbaru