Kenangan Indah di Balik Irama Melayu

Redaksi

- Penulis

Minggu, 8 Maret 2026 - 01:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Menikmati irama Melayu tempo dulu seperti membuka pintu kenangan yang lama terkunci. Nada-nadanya pelan, sendu, seakan membawa hati kembali ke lorong waktu saat hidup masih begitu sederhana.

 

Ayah sering pergi sejak pagi buta, bekerja keras mencari nafkah, sementara emak sibuk mengurus rumah dan anak-anak. Kita belum benar-benar mengerti beratnya hidup saat itu, tapi kita tahu ayah pergi agar dapur tetap berasap dan kita bisa tetap sekolah.

 

Rumah saat itu tak mewah, bahkan listrik pun kadang tak ada. Lampu petromax menjadi sumber cahaya yang menerangi rumah kecil kami. Cahayanya terang tapi hangat, berdesis pelan menemani kami belajar, bercanda, atau sekadar mendengar cerita emak.

 

Kini semuanya tinggal kenangan. Ayah Emak sudah tiada, rumah lama sudah berubah, lampu petromax juga sudah lama tak dinyalakan. Tapi irama Melayu tempo dulu masih mampu membawa hati pulang ke masa ketika cinta orang tua begitu sederhana, namun begitu dalam.

 

Setiap kali lagu-lagu lama itu terdengar, hati seperti berbisik pelan: betapa indahnya masa kecil yang dulu pernah kita jalani, meski saat itu kita belum sadar bahwa itulah salah satu masa paling berharga dalam hidup.

Baca Juga :  Kolaborasi Adat Batak-Nias Warnai Silaturahmi Marga Mendrofa Pasid dan Tapsel Sambut Hulahula Siregar"

Penulis : Kr01

Editor : EMAS

Sumber Berita: KompasReal.id

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Piaman Barayo 2026 Siap Digelar, Diprediksi Tarik Ratusan Ribu Wisatawan ke Pariaman
Perayaan Holi Viral di Sekolah Amerika
Budaya Tradisional hingga Tren Fashion Picu Viral di Media Sosial
Marpangir, Tradisi Mandi Bersama Menyambut Ramadhan di Padang Sidempuan
Margondang Tetap Eksis dan Terjaga, Warisan Leluhur Batak Angkola Bergema di Gunung Matinggi
Menghidupkan Kembali Budaya Tiwah: Tradisi Adat Dayak yang Terlupakan di Kalimantan
Paradoks Langit Eswatini: Ketika Drone dan Sihir Berbagi Aturan yang Sama
Penemuan Seni Gua Tertua di Indonesia: Cap Tangan Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Gua Liang Metandu
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:55 WIB

Piaman Barayo 2026 Siap Digelar, Diprediksi Tarik Ratusan Ribu Wisatawan ke Pariaman

Sabtu, 14 Maret 2026 - 19:23 WIB

Perayaan Holi Viral di Sekolah Amerika

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:39 WIB

Budaya Tradisional hingga Tren Fashion Picu Viral di Media Sosial

Minggu, 8 Maret 2026 - 01:43 WIB

Kenangan Indah di Balik Irama Melayu

Rabu, 18 Februari 2026 - 17:09 WIB

Marpangir, Tradisi Mandi Bersama Menyambut Ramadhan di Padang Sidempuan

Berita Terbaru