Ketika Persia dan Yahudi Berjalan Bersama: Membaca Ulang Narasi Akhir Zaman di Tengah Skenario Tehran

Redaksi

- Penulis

Selasa, 3 Maret 2026 - 06:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Di jalanan Tehran, bendera Israel dibakar. Di panggung dunia, Iran tampil sebagai musuh bebuyutan Zionis. Tapi siapa sangka, 1.400 tahun lalu Rasulullah ﷺ telah membuka lembaran akhir zaman dengan menyebut sebuah kota di jantung Persia—Isfahan—bukan sebagai simbol perlawanan, melainkan sebagai titik kumpul 70.000 Yahudi yang akan mengikuti Dajjal. Sebuah spoiler profetik yang hari ini mulai menemukan bentuknya di panggung geopolitik.

 

Sementara pemimpin tertinggi Iran menua di tengah tekanan sanksi dan rakyat yang letih, skenario pergantian rezim sedang dirancang rapi di Washington. Reza Pahlevi II—putra Syah Iran yang digulingkan 1979—kini duduk bersama pejabat AS dan tokoh-tokoh Zionis, mempersiapkan panggung untuk kembali ke Tehran. Think-tank pro-Israel menyusun narasi, media menyiapkan opini, dan rakyat Iran dibuat percaya bahwa perubahan hanya mungkin lewat tangan yang sama yang dulu mereka usir. Sebuah dinasti yang jatuh, kini disiapkan untuk kembali

 

Di sinilah titik pertemuan antara skenario politik dan skenario takdir. Isfahan, kota yang disebut langsung oleh Nabi ﷺ, hari ini menjadi pusat program nuklir Iran—dan di saat yang sama, rumah bagi komunitas Yahudi terbesar yang tersisa di Timur Tengah selain Israel. Bukan Tel Aviv, bukan New York. Isfahan, kota di jantung Persia, yang kelak akan menjadi saksi keberangkatan 70.000 Yahudi berbaju jubah mengikuti Dajjal. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini akan terjadi, melainkan: apakah retorika anti-Israel selama ini hanyalah prolog panjang menuju adegan yang sudah tertulis?

 

Para ulama, termasuk Ibnu Katsir, telah lama mencatat bahwa dalam skenario akhir zaman, Persia dan Yahudi akan berada di barisan yang sama dalam kekacauan besar melawan kaum muslimin dan Romawi. Ini bukan klaim provokatif, melainkan kutipan dari timbunan riwayat yang tidak bisa diabaikan. Dan hari ini, ketika Iran membiayai Hizbullah, Hamas, dan Houthi, ketika mereka mencetak poster “Death to Israel” jutaan lembar, di saat yang sama jejaring think-tank dan para pemain lama justru sedang merajut koalisi baru yang anehnya—persis seperti yang dikatakan Nabi: Persia dan Yahudi berjalan menuju arah yang sama.

Baca Juga :  Koramil 13 Panyabungan Apresiasi Kinerja Polsek Saat Kunker Kapolres Madina, Sinergitas TNI–Polri Ditekankan

Tapi Nabi juga memberi spoiler lain: panji-panji hitam yang menjadi penantang Dajjal tidak akan keluar dari Tehran. Ia muncul dari Khurasan—kawasan timur yang hari ini justru paling jauh dari cengkeraman rezim. Dua kekuatan besar akan lahir dari tanah yang sama: Isfahan melahirkan pengikut Dajjal, Khurasan melahirkan penantangnya. Satu dari timur membawa fitnah, satu dari timur membawa panji Al-Mahdi. Inilah peta akhir zaman yang ditinggalkan Nabi, bukan untuk membuat kita panik, tapi agar kita tidak tersesat ketika batas antara kawan dan lawan mulai kabur.

Maka, ketika dunia menyaksikan drama Iran-Israel sebagai pertarungan geopolitik biasa, seorang mukmin melihatnya sebagai halaman yang sudah lama tertulis. Ketika media menyajikan ini sebagai konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai, hadits membacakannya sebagai prolog menuju episode besar yang belum tiba. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyadarkan: bahwa sejarah tidak berjalan acak. Ada tangan yang memutar skenario, ada takdir yang mengatur panggung.

 

 

Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama, jangan terkejut. Tidak ada yang mengejutkan bagi orang yang membaca spoiler Nabinya. Kedua, jangan terprovokasi. Fitnah akhir zaman dirancang untuk menyeret kita masuk ke dalam pusarannya. Ketiga, jangan salah pilih pihak. Ketika pembela Islam dan musuh Islam sulit dibedakan, kembalilah ke hadits. Dan keempat, perkuat diri dan keluarga. Karena yang selamat di akhir zaman bukan yang paling lantang berteriak, tapi yang paling kuat imannya—meski ia harus hidup asing di tengah keramaian. Beruntunglah orang-orang asing itu.

Penulis : Kr03

Editor : EMAS

Sumber Berita: KompasReal.id

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Brigjen Faridah Faisal, Perempuan Pertama Jabat Kepala Pengadilan Militer Utama, Alumni Unhas
KompasReal.id Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2026
Penjaga Warisan Batak Toba: Kisah Penenun Ulos di Pematangsiantar yang Tak Pernah Menyerah di Era Digital
Swarnadwipa: Warisan dan Fakta di Balik Julukan “Pulau Emas” Sumatr
Inkonsistensi Trias Politica: Ketika Yudikatif Mengambil Peran Legislatif
Victoria Severine Liono, Siswi SD asal Indonesia Raih Gelar Juara Dunia Sains di Bali
Waspada Penipuan Berkedok Instansi Resmi: Kenali Cara Hindarinya
Fenomena “Raja Kecil” di Dunia Pendidikan: Kepala Sekolah yang Berkuasa Mutlak
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 06:12 WIB

Ketika Persia dan Yahudi Berjalan Bersama: Membaca Ulang Narasi Akhir Zaman di Tengah Skenario Tehran

Selasa, 10 Februari 2026 - 18:40 WIB

Brigjen Faridah Faisal, Perempuan Pertama Jabat Kepala Pengadilan Militer Utama, Alumni Unhas

Senin, 9 Februari 2026 - 08:57 WIB

KompasReal.id Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2026

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WIB

Penjaga Warisan Batak Toba: Kisah Penenun Ulos di Pematangsiantar yang Tak Pernah Menyerah di Era Digital

Selasa, 6 Januari 2026 - 19:05 WIB

Swarnadwipa: Warisan dan Fakta di Balik Julukan “Pulau Emas” Sumatr

Berita Terbaru