KompasReal.com, Sebuah acara adat yang penuh makna dan mengedepankan inovasi budaya berlangsung khidmat di Gedung Sekolah Minggu, Habinsaran, Padangsidimpuan , pada Kamis, 15 Januari 2026. Perhelatan ini digelar oleh keluarga besar marga Mendrofa dari Kota Padangsidimpuan (Pasid) dan Tapanuli Selatan (Tapsel) untuk menyambut kehadiran Hulahula (Mora) mereka, marga Siregar dari Kota Padangsidimpuan Uniknya, seluruh prosesi disepakati untuk dilaksanakan dengan kolaborasi tata cara Adat Batak Toba dan Adat Nias.
Acara ini menghadirkan seluruh unsur dalam falsafah Dalihan Natolu. Rombongan marga Siregar hadir dalam posisi sebagai Hulahula/Somba yang dimuliakan. Sementara itu, Dongan Tubu/Kahanggi dari marga Mendrofa Sidimpuan dan Tapsel bertindak sebagai tuan rumah, didukung sepenuhnya oleh Boru-Boru marga Mendrofa. Tujuannya jelas: memperkokoh tali kasih (pardonaion) antar kelompok kekerabatan, melestarikan adat, dan memberikan edukasi budaya kepada generasi muda dalam bingkai kebersamaan yang lebih luas.
Keistimewaan acara ini terletak pada perpaduan dua tradisi besar. Selain menjalankan ritual adat Batak Toba seperti penyampaian Umpasa dan pemberian Ulos, acara juga diwarnai dengan unsur-unsur budaya Nias yang disepakati bersama. Kolaborasi ini mungkin terwujud dalam bentuk musik pengiring, gerakan tari, atau simbol-simbol visual tertentu, menciptakan sebuah mosaik budaya yang harmonis dan meneguhkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam skala mikro keluarga.
Keberhasilan acara kolaboratif ini tidak lepas dari kerja keras kepanitiaan yang diketuai oleh April Mendrofa dari Kota Padang Sidempuan, dengan didukung oleh Bendahara Sulaiman P.J. Larosa dan Sekretaris Brian David Larosa. Penasihat adat, Purnama br. Juntak, memastikan seluruh prosesi berjalan sesuai tata krama yang disepakati. Struktur kepanitiaan ini mencerminkan kerjasama yang solid lintas generasi dan wilayah.
Secara filosofis, acara ini memiliki makna yang dalam. Bagi pihak marga Mendrofa, ini adalah wujud somba (penghormatan) dan elek marboru (menjaga hubungan dengan boru). Bagi semua pihak, ini adalah simbol dinamisasi adat yang tetap berpegang pada inti sari, yaitu menghargai asal-usul (tarombo) dan menjaga persaudaraan. “Kolaborasi ini kami lakukan untuk menunjukkan bahwa adat itu hidup, bisa berdialog, dan merangkul perbedaan tanpa kehilangan jati diri,” ujar seorang perwakilan panitia.
Dengan diakhiri santap bersama yang penuh keakraban, acara adat kolaborasi Batak-Nias ini berhasil ditutup dengan sukses dan penuh rasa syukur. Peristiwa ini tidak hanya menjadi catatan manis dalam sejarah hubungan marga Mendrofa dan Siregar, tetapi juga menjadi preseden positif bagi upaya pelestarian budaya yang adaptif, inklusif, dan berwawasan kebersamaan. Horas!KR14,MAASAROMENDROFA













