KompasReal.id,Di era ketika manusia dengan gagah melesatkan roket ke Mars, mendidik algoritma agar bisa melukis seperti Van Gogh, dan memimpikan jalan raya yang dipenuhi kendaraan tanpa pengemudi, dunia seolah bergerak dalam satu irama: irama rasionalitas dan teknologi. Namun, di tengah simfoni modernitas itu, tiba-tiba muncul sebuah not balok yang sumbang. Sebuah pengumuman resmi dari negeri kecil di selatan Afrika membuat jagat maya bergeming sejenak, lalu pecah menjadi tawa. “Penyihir dilarang terbang di atas ketinggian 150 meter.”
Sebuah kalimat yang seolah merobek-robek kain logika dan menjahitnya kembali dengan benang dongeng.
Tahun 2013, Otoritas Penerbangan Sipil Swaziland—negara yang kini kita kenal sebagai Eswatini—menerbitkan regulasi teknis tentang batas ketinggian objek terbang. Regulasi ini sejatinya membosankan, berbicara tentang drone, balon udara, dan mainan terbang yang mulai marak. Namun, drama dimulai ketika seorang jurnalis mengajukan pertanyaan polos kepada seorang pejabat: “Bagaimana dengan penyihir yang terbang menggunakan sapu?” Dan jawabannya, yang mungkin disampaikan dengan nada datar atau bahkan sedikit bingung, menjadi bola liar yang menggelinding tak terbendung. Penyihir dengan sapunya, kata pejabat itu, juga tunduk pada hukum yang sama. Konsekuensinya? Penangkapan dan denda yang tidak main-main. Sejak saat itu, Eswatini secara tidak sengaha memiliki undang-undang anti-penyihir terbang yang paling terkenal di dunia.
Di permukaan, ini adalah bahan tertawaan yang sempurna. Internet, dengan segala kegemarannya pada hal-hal absurd, segera menjadikan berita ini viral. Bayangkan: seorang penyihir dengan topi runcingnya, mencoba menyelinap di bawah radar penerbangan sipil, lalu ditilang oleh polisi berseragam modern. Namun, bagi masyarakat Eswatini dan banyak bagian Afrika lainnya, elemen “sihir” dalam peraturan ini bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur. Kepercayaan terhadap ilmu hitam, dukun (witch doctor), dan kekuatan supranatural adalah lapisan realitas yang hidup berdampingan dengan kehidupan sehari-hari, sama nyatanya dengan kantor pos atau pasar tradisional.
Lapisan berikutnya dari cerita ini justru lebih menarik. Di periode yang sama, pemerintah Eswatini dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengenakan pajak penghasilan kepada para dukun tradisional. Argumennya bukanlah karena mereka takut pada kutukan atau guna-guna, melainkan karena para dukun ini menjalankan praktik yang menghasilkan uang. Sama seperti dokter atau pengacara, mereka memiliki pasien atau klien yang membayar jasa mereka. Di sinilah letak kejeniusan tersembunyi dari paradoks ini. Negara tidak berusaha menghapus kepercayaan lama dengan kekerasan, tetapi justru merangkulnya ke dalam kerangka birokrasi modern. Langit diatur untuk semua “penerbang”, baik yang bermesin maupun yang bersapu. Pendapatan dihitung untuk semua “profesional”, baik yang berjas maupun yang berjampi.
Pada akhirnya, cerita tentang “penyihir yang dilarang terbang” di Eswatini bukanlah tentang apakah sihir itu ada atau tidak. Ini adalah cermin kecil yang memantulkan kompleksitas dunia kita. Ini adalah kisah tentang bagaimana modernitas tidak selalu datang seperti gelombang tsunami yang menghanyutkan segala yang lama. Kadang, ia merembes seperti air, mengisi celah-celah tradisi, membentuknya kembali tanpa sepenuhnya menghancurkannya. Eswatini, dengan satu pernyataan kontroversialnya, mengajarkan kita bahwa dunia tetaplah tempat yang aneh dan berlapis-lapis. Di satu sisi, kita duduk di kursi pilot pesawat nirawak; di sisi lain, kita masih melirik langit, bertanya-tanya apakah ada bayangan sesosok figure di atas sapu yang melesat di bawah 150 meter.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: Mdv,com













