Seuntai Selendang untuk Ibu Susuan: Halimah dan Nabi di Masa Kenabian

Redaksi

- Penulis

Jumat, 26 Desember 2025 - 18:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com, Gurun Bani Sa’ad yang dulu pernah subur,telah kembali ke tabiat aslinya yang keras. Tanah kembali gersang, hewan ternak mengurus, dan kemiskinan sekali lagi melingkupi kehidupan Halimah as-Sa’diyah. Ia telah menua, tubuhnya tak lagi kuat, dan kenangan akan keberkahan yang pernah melimpah di kala Muhammad kecil bersamanya, terasa bagai miminan indah yang jauh.

Di tengah kesempitan hidup itu,kabar dari Makkah menyelinap sampai ke telinganya: anak yatim yang pernah disusuinya, Muhammad, telah diangkat menjadi Nabi. Ia membawa risalah dari langit, menyeru manusia menyembah Allah Yang Esa. Kabar itu menyulut secercah harapan dan kerinduan yang lama terpendam di hati Halimah.

Dengan sisa tenaga dan keyakinan,Halimah memulai perjalanan panjang menuju Makkah. Ia tak membawa beban harta, hanya kenangan akan bayi yang penuh berkah itu dan harapan kecil agar sang anak masih mengingat jasa seorang ibu susuan dari dusun yang jauh.

Saat akhirnya ia berdiri di hadapan Rasulullah SAW,waktu seolah terhenti. Di depannya, bukan lagi bayi mungil yang digendongnya, melainkan seorang manusia dengan wajah bercahaya penuh kewibawaan kenabian. Namun, tatapan Nabi seketika berubah begitu mengenali sosok itu.

Dengan penuh penghormatan,Rasulullah SAW berdiri. Beliau membentangkan selendangnya di tanah, lalu mempersilakan wanita tua itu untuk duduk di atasnya. Sebuah tindakan sederhana nan agung yang membuat seluruh sahabat tercengang. Dengan suara lembut penuh pengakuan, beliau bersabda, “Ini ibuku.”

Kata-kata itu bukan sekadar panggilan,melainkan pengangkatan derajat. Ia adalah ibu dalam kasih, ibu dalam pengorbanan, yang air susunya telah turut menjaga cahaya kenabian di masa paling rentan. Air mata Halimah pun tumpah, melepas segala rindu dan beban tahun-tahun yang telah dilaluinya.

Baca Juga :  Rajo Linduang: Dari Legenda Kriminal ke Tokoh Adat

Rasulullah SAW lalu menanyakan dengan penuh perhatian keadaan Halimah dan keluarganya.Mendengar kesulitan hidup yang menimpa ibu susuannya, beliau dengan segera memberikannya bantuan dan hadiah sebagai balasan atas kebaikan yang tak pernah terlupakan. Itu bukan imbalan duniawi yang berlebihan, melainkan bentuk ketulusan dan syukur seorang anak yang berbakti.

Dalam pertemuan itu,Halimah menyaksikan sebuah kebenaran yang menghangatkan hatinya: Muhammad yang ia kenal dulu, dengan akhlak dan sifat pemurahnya, tidaklah berubah. Hanya saja kini, keberkahan yang dulu mengiringinya secara samar, telah datang secara nyata bersama risalah langit yang ia emban.

Riwayat hidup Halimah as-Sa’diyah mungkin tidak diakhiri dengan catatan dramatis tentang wafatnya.Namun, justru dalam kesederhanaan itulah kemuliaannya abadi. Namanya akan senantiasa harum disebut dalam setiap pembacaan sirah Nabi, sebagai perempuan pilihan yang rahim dan air susunya turut menjaga cahaya kenabian terakhir, dan yang di hari kemudian, dihormati oleh manusia termulia dengan seuntai selendang penuh makna.

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rajo Linduang: Dari Legenda Kriminal ke Tokoh Adat
Allah Pemilik Ketentuan: Polwan Pontianak Pilih Sopir Truk Jadi Suami, Tak Peduli Cibiran
Dari Buruh Gudang ke Polisi: Perjalanan Wawan, Bukti Doa Ibu dan Usaha Tak Pernah Mengkhianati
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 17:18 WIB

Rajo Linduang: Dari Legenda Kriminal ke Tokoh Adat

Rabu, 4 Februari 2026 - 10:02 WIB

Allah Pemilik Ketentuan: Polwan Pontianak Pilih Sopir Truk Jadi Suami, Tak Peduli Cibiran

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:09 WIB

Dari Buruh Gudang ke Polisi: Perjalanan Wawan, Bukti Doa Ibu dan Usaha Tak Pernah Mengkhianati

Jumat, 26 Desember 2025 - 18:53 WIB

Seuntai Selendang untuk Ibu Susuan: Halimah dan Nabi di Masa Kenabian

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB