KompasReal.id, Fenomena anak tantrum dan susah makan menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan anak. Berdasarkan kajian dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak, perilaku ini umumnya terjadi pada usia balita sebagai bagian dari proses perkembangan emosi dan kemandirian. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek nutrisi dan psikologis.
Sejumlah penelitian dalam Psikologi Perkembangan Anak menyebutkan bahwa tantrum sering dipicu oleh ketidakmampuan anak dalam mengungkapkan keinginan atau rasa frustrasi. Orang tua disarankan untuk tetap tenang, tidak membentak, serta memberikan respon yang konsisten. Pendekatan ini dinilai efektif dalam membantu anak belajar mengelola emosinya secara bertahap.
Sementara itu, masalah susah makan pada anak kerap berkaitan dengan kebiasaan makan yang kurang tepat, seperti pemberian camilan berlebihan atau suasana makan yang tidak kondusif. Para ahli dari Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan penerapan pola makan terjadwal, variasi menu sehat, serta menghindari paksaan saat makan agar anak tidak mengalami trauma psikologis terhadap makanan.
Dalam praktiknya, orang tua juga dianjurkan untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan, misalnya dengan melibatkan anak dalam memilih makanan atau menyajikan hidangan dengan tampilan menarik. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan minat makan anak sekaligus memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Para pakar kesehatan menegaskan bahwa kunci utama dalam mengatasi anak tantrum dan susah makan adalah kesabaran, konsistensi, serta pemahaman terhadap kebutuhan anak. Jika kondisi berlangsung berkepanjangan, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis atau psikolog anak guna mendapatkan penanganan yang tepat dan komprehensif.
Penulis : Kr03
Editor : Emas












