KompasReal.id, Ketika Doa Seorang Hamba Mengubah Takdir Jutaan Manusia .Abdullah bin al-Mubarak baru saja menuntaskan ibadah haji. Rasa lelah menyelimuti tubuhnya setelah berhari-hari berada di padang pasir yang terik, berdesak-desakan dengan jutaan jamaah lainnya. Ia merebahkan diri dan tertidur. Dalam mimpinya, ia menyaksikan dua malaikat turun dari langit dan memperbincangkan jumlah jamaah haji tahun itu. Tujuh ratus ribu orang datang dari berbagai penjuru dunia, namun tidak satu pun dari mereka yang hajinya diterima oleh Allah. Abdullah gemetar mendengar percakapan itu. Betapa tidak, para jamaah telah menempuh perjalanan jauh, mengorbankan harta dan tenaga, namun semuanya sia-sia.
Namun malaikat itu melanjutkan pembicaraan dengan kabar yang mengejutkan. Ada seseorang yang tidak datang berhaji, namun justru hajinya diterima dan seluruh dosanya diampuni. Bahkan berkat dialah seluruh jamaah haji tahun itu diterima Allah. Siapakah dia? Malaikat menyebut namanya: Sa’id bin Muhafah, seorang tukang sol sepatu di kota Damaskus. Seketika Abdullah terbangun dari tidurnya. Ia membatalkan rencana pulang ke kampung halamannya di Marw, dan segera mengarahkan langkahnya menuju Damaskus untuk mencari lelaki misterius itu.
Setibanya di Damaskus, Abdullah bertanya kepada penduduk tentang Sa’id bin Muhafah. Ia diarahkan ke tepi kota, di mana berdiri sebuah gubuk reot. Di sanalah ia menemukan seorang lelaki tua berpakaian lusuh yang tengah asyik menjahit sepatu. Abdullah memperkenalkan diri dan menceritakan mimpinya. Sa’id terharu hingga air matanya tak tertahankan. Dengan suara bergetar, ia mulai bercerita tentang kerinduannya yang tak pernah padam pada Baitullah, tentang puluhan tahun menabung dari hasil menjahit sepatu hingga terkumpul 350 dirham yang cukup untuk berangkat haji tahun ini.
Sa’id melanjutkan kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Ketika ia bersiap berangkat, istrinya yang sedang hamil tua mengalami ngidam yang sangat berat. Sang istri mencium aroma masakan lezat dari luar dan memohon Sa’id untuk mencarikannya. Sa’id mengikuti sumber bau itu hingga tiba di sebuah gubuk hampir roboh yang dihuni seorang janda dengan enam anaknya. Janda itu sedang memasak daging, namun menolak menjualnya meskipun Sa’id menawarkan harga berapa pun. Dengan linangan air mata, janda itu menjelaskan bahwa daging yang dimasaknya adalah daging keledai mati yang halal bagi mereka karena keadaan darurat, namun haram bagi orang lain.
Seketika hati Sa’id tersentuh. Ia pulang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada istrinya. Mereka berdua menangis tersedu-sedu. Tanpa berpikir panjang, Sa’id dan istrinya memasak makanan dari rumah mereka sendiri dan membawanya ke gubuk janda itu beserta seluruh tabungan hajinya sebesar 350 dirham. “Pakailah uang ini untuk usaha, agar kau tak kelaparan lagi,” pesan Sa’id sambil menyerahkan uang itu. Dalam hatinya, ia berbisik lirih kepada Sang Pencipta, “Ya Allah, di sinilah hajiku. Ya Allah, di sinilah Mekahku.” Abdullah bin al-Mubarak tak kuasa menahan air mata setelah mendengar kisah itu. “Engkau memang pantas mendapatkannya,” ucapnya haru.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa haji yang sampai ke hati Allah tak selalu harus sampai ke Mekkah. Kadang-kadang Mekkah itu bersemayam di gubuk reot, di daging bangkai yang dimasak dalam keadaan darurat, di air mata janda yang tak sampai ke lantai namun sampai ke langit. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 32, “Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” Sa’id bin Muhafah telah membuktikan bahwa ketakwaan sejati bukan hanya ritual formal, melainkan kepekaan sosial yang berakar dari lubuk hati paling dalam, yang mampu mengubah seorang tukang sol sepatu menjadi bintang di sisi-Nya.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: KompasReal.id













