Dari Warung Kopi Pinggir Jalan Menuju Meja Direktur: Kisah Rian, Anak Jalanan yang Tak Pernah Menyerah

Redaksi

- Penulis

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com, Di usia 12 tahun, Rian hanya punya mimpi sederhana: bisa makan dua kali sehari tanpa harus meminta-minta. Setiap pagi ia membantu ibunya berjualan kopi tubruk di trotoar pinggir Jalan Sudirman, Pematangsiantar. Siang hingga malam ia berkeliling menjajakan tisu, permen, dan apa saja yang bisa dijual demi tambahan Rp15.000–Rp20.000 sehari.

Namun di balik tubuh kurus dan baju lusuh, ada api kecil yang tak pernah padam: keinginan belajar. Setiap malam setelah warung tutup, Rian menyelinap ke perpustakaan umum yang hampir selalu sepi, membaca buku-buku pelajaran kelas 1–6 SD yang sudah usang. Ia belajar menulis dengan pensil bekas yang ia kumpulkan dari trotoar, dan berlatih matematika di atas kardus bekas dengan batu arang.

Tahun 2015, seorang guru honorer yang kebetulan sering nongkrong di warung kopi ibunya, tersentuh melihat Rian yang sambil menyeka meja masih membaca buku IPS kelas 5. Guru itu kemudian menjadi “orang tua angkat” tak resmi: memberi buku, seragam bekas yang masih layak, dan yang terpenting—mengantar Rian bolak-balik mendaftar sekolah negeri dengan beasiswa prestasi anak kurang mampu.

Perjalanan tak mudah. Rian pernah di-bully karena bau amis (akibat sering membantu ibunya menggoreng bakwan), pernah hampir putus sekolah karena harus membantu nafkah keluarga, bahkan sempat tidur di mushola karena malu pulang ke rumah kontrakan sempit yang bocor. Tapi setiap kali ingin menyerah, ia ingat kalimat ibunya: “Nak, orang boleh miskin, tapi jangan sampai miskin mimpi.”

Dua belas tahun kemudian, Januari 2026, Rian berdiri di lantai 18 sebuah gedung perkantoran di kawasan SCBD Jakarta. Ia resmi menjabat sebagai Direktur Operasional di perusahaan startup logistik yang kini melayani lebih dari 3 juta pengiriman per bulan.

Baca Juga :  Takdir Menyapa dengan Sopan

Di tangannya ia memegang gelar sarjana Teknik Industri ITB (lulus cumlaude), beasiswa S2 dari pemerintah Belanda, dan sebuah cincin sederhana dari ibunya yang kini tak lagi berjualan kopi di pinggir jalan.
Ketika ditanya rahasia kesuksesannya, Rian hanya tersenyum tipis dan menjawab singkat:

“Dua hal: pertama, saya percaya Tuhan memberi otak yang sama kepada anak jalanan dan anak konglomerat. Bedanya cuma siapa yang mau memakainya sampai habis. Kedua… saya sangat takut mengecewakan secangkir kopi tubruk yang dulu membesarkan saya.”

Kisah Rian mengingatkan kita: mimpi tidak pernah memandang status domisili, dan perjuangan yang tulus—sekecil apa pun—selalu punya cara untuk mengubah trotoar menjadi panggung besar kehidupan.KR03

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Haru! Ayah Beda Keyakinan Hadiri Khatam Al-Qur’an Putrinya, Bukti Cinta Tanpa Batas
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 17:39 WIB

Haru! Ayah Beda Keyakinan Hadiri Khatam Al-Qur’an Putrinya, Bukti Cinta Tanpa Batas

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:42 WIB

Dari Warung Kopi Pinggir Jalan Menuju Meja Direktur: Kisah Rian, Anak Jalanan yang Tak Pernah Menyerah

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB