Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya: Filosofi Jurnalistik yang Tak Lekang Waktu” 

Redaksi

- Editor

Senin, 30 Maret 2026 - 01:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Padang – Wartawan senior Sumatra Barat, H. Fachrul Rasyid, pernah berpesan, “Wartawan harus tahu dulu baru bertanya.” Filosofi ini menjadi pedoman bagi banyak wartawan, termasuk Muhammad Subhan, dalam menjalankan tugas jurnalistik.

 

Menurut Subhan, seorang wartawan harus mengisi dirinya dengan pengetahuan terkait topik yang akan digali sebelum mewawancarai narasumber. Ini berarti wartawan harus riset, membaca, dan menyiapkan daftar pertanyaan kunci.

 

“Wartawan tidak boleh ‘kosong’ saat mendatangi narasumber. Ia harus ‘berisi’ dengan pengetahuan sehingga wawancara menjadi lebih dari sekadar tanya jawab,” tulis Subhan.

 

Subhan juga menekankan pentingnya mengenal narasumber, memahami latar belakang, posisi, dan kepentingannya. Teknik wawancara yang baik tidak hanya soal daftar pertanyaan, tetapi juga tentang sikap dan etika.

 

Dalam praktiknya, wartawan kerap menghadapi situasi tidak ideal, seperti narasumber yang memberikan jawaban keliru. Di sinilah disiplin jurnalistik diuji. Wartawan harus mencatat dan memverifikasi informasi dengan data lain.

 

“Jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang mengikuti jejak peristiwa hingga tuntas, bukan sekadar memungut sensasinya di awal lalu meninggalkannya begitu saja,” tegas Subhan.

 

Filosofi “Wartawan harus tahu dulu baru bertanya” mengandung tanggung jawab besar: menyajikan kebenaran yang tidak sekadar benar, tetapi juga adil. 🌟

Baca Juga :  Nekat Welas Asih: Susi Pudjiastuti dan Misi Kemanusiaan Pertama ke Darah Tsunami Aceh

Penulis : Kr03

Editor : EMAS

Sumber Berita: KompasReal.id

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengenang Karya Legendaris ‘Perempuan dari Sidimpuan’, Tantawi Panggabean Berharap Lahir Karya Baru Pembawa Nama Daerah
Perjalanan Spiritual Dian Sastrowardoyo: Dari Katolik hingga Menemukan Islam
Patung Ibrahim Aliatar di Loja: Penghormatan Spanyol pada Pejuang Muslim yang Gugur 9 Tahun Sebelum Jatuhnya Granada
Dua Gadis Tunarungu Bandung Menang Besar: Kerja Keras Membayar Lunas!
Sabai Nan Aluih: Gadis Pemberani dari Ranah Minang
Ada seorang ibu yang ingin bercerai dari suaminya. Ia kemudian berdiskusi panjang dengan saya.
18 Tahun Terdampar di Lombok, Norida Akmal Akhirnya Pulang ke Pangkuan Keluarga
Kisah Rani, Wanita Tangguh yang Menaklukkan Rintangan
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 01:21 WIB

Mengenang Karya Legendaris ‘Perempuan dari Sidimpuan’, Tantawi Panggabean Berharap Lahir Karya Baru Pembawa Nama Daerah

Senin, 30 Maret 2026 - 01:16 WIB

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya: Filosofi Jurnalistik yang Tak Lekang Waktu” 

Selasa, 24 Maret 2026 - 10:25 WIB

Perjalanan Spiritual Dian Sastrowardoyo: Dari Katolik hingga Menemukan Islam

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:20 WIB

Patung Ibrahim Aliatar di Loja: Penghormatan Spanyol pada Pejuang Muslim yang Gugur 9 Tahun Sebelum Jatuhnya Granada

Jumat, 27 Februari 2026 - 17:30 WIB

Dua Gadis Tunarungu Bandung Menang Besar: Kerja Keras Membayar Lunas!

Berita Terbaru

Padangsidimpuan

UIN Syahada Keluarkan Sikap Resmi Terkait Dugaan Kasus ASN

Jumat, 12 Jun 2026 - 22:22 WIB