Keluarga Korban Gugat Boeing dan Honeywell atas Kecelakaan Pesawat Air India

Redaksi

- Penulis

Sabtu, 20 September 2025 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com, Amerika Serikat – Keluarga empat penumpang yang tewas dalam kecelakaan pesawat Air India Boeing 787 pada 12 Juni lalu telah mengajukan gugatan hukum di Pengadilan Tinggi Delaware, Amerika Serikat.

Gugatan tersebut menuding Boeing dan Honeywell bertanggung jawab atas kecelakaan maut yang menewaskan 260 orang itu karena diduga ada cacat desain pada sakelar bahan bakar pesawat.

Menurut gugatan yang diajukan, sakelar bahan bakar pada pesawat Boeing 787 memiliki desain yang cacat dan memungkinkan terputusnya pasokan bahan bakar secara tidak sengaja.

Hal ini disebabkan oleh posisi sakelar di kokpit yang membuatnya lebih mungkin terdorong tanpa sengaja, sehingga aktivitas normal di kokpit bisa berujung pada pemutusan bahan bakar.

Kecelakaan pesawat Air India Boeing 787 terjadi pada 12 Juni 2025, menewaskan 260 orang, termasuk 229 penumpang dan 12 awak kabin.

Laporan awal investigasi Aircraft Accident Investigation Bureau (AAIB) India menunjukkan bahwa pasokan bahan bakar ke mesin pesawat terputus sesaat setelah lepas landas.

Meskipun FAA sebelumnya menyatakan bahwa sakelar bahan bakar tidak terlihat sebagai penyebab kecelakaan, gugatan ini menuding Boeing dan Honeywell telah mengetahui risiko desain tersebut namun tidak melakukan tindakan pencegahan.

Boeing dan Honeywell belum memberikan komentar resmi terkait gugatan ini. Gugatan ini menjadi yang pertama diajukan di pengadilan Amerika Serikat terkait kecelakaan tersebut dan menuntut ganti rugi dengan jumlah yang belum ditentukan. (KR/CNBC)

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Bungkam Menjadi Penyesalan: Kisah Pernikahan Putra Pemimpin Tertinggi Iran yang Menggugat Logika Duniawi” —
Kedubes Iran di China: Kami Tak Butuh Sumbangan Uang, Tapi Solidaritas Internasional 
Video Joget di Monumen Perang AS Viral, Picu Kecaman Publik
Integrasi Kurikulum Al-Qur’an ke Sekolah Negeri: Strategi Senegal Memodernisasi
Tren “Tight Men” di Jepang: Kekhawatiran Baru atas Keamanan Publik
Trump Tertekan, Iran Unggul di Perang Politik
Mehdi Taremi Siap Tinggalkan Olympiacos, Kembali ke Iran Demi Membela Negara
Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serangan Terhadap Rudal Iran
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 20:27 WIB

Dari Bungkam Menjadi Penyesalan: Kisah Pernikahan Putra Pemimpin Tertinggi Iran yang Menggugat Logika Duniawi” —

Senin, 9 Maret 2026 - 00:52 WIB

Kedubes Iran di China: Kami Tak Butuh Sumbangan Uang, Tapi Solidaritas Internasional 

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:25 WIB

Video Joget di Monumen Perang AS Viral, Picu Kecaman Publik

Rabu, 4 Maret 2026 - 21:29 WIB

Integrasi Kurikulum Al-Qur’an ke Sekolah Negeri: Strategi Senegal Memodernisasi

Selasa, 3 Maret 2026 - 22:00 WIB

Tren “Tight Men” di Jepang: Kekhawatiran Baru atas Keamanan Publik

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB