Dari Bukit Bonjol ke Lereng Minahasa: Akhir Perjalanan Seorang Imam di Pengasingan

Redaksi

- Penulis

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Di ujung utara Sulawesi, jauh dari lembah-lembah Minangkabau yang menjadi saksi kegemilangan perlawanannya, Tuanku Imam Bonjol menghembuskan napas terakhir. Tanah Minahasa, dengan panorama hijau dan udara sejuknya, menjadi saksi bisu epilog kehidupan seorang pemimpin besar yang namanya pernah membuat repot pemerintahan kolonial Hindia Belanda selama lebih dari tiga dekade. Di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, ia kini beristirahat, meninggalkan kisah tentang bagaimana pengasingan tak pernah mampu memadamkan martabat seorang pejuang.

Perang Padri yang berkobar sejak 1803 telah mengubah lanskap sosial dan politik Sumatra Barat. Sebagai pemimpin utama, Muhammad Shahab yang kemudian bergelar Tuanku Imam Bonjol memadukan semangat pembaruan agama dengan perlawanan bersenjata. Namun, setelah pengepungan panjang dan jatuhnya Benteng Bonjol pada 1837, ia tak lagi menjadi panglima di medan laga. Siasat perundingan licik Belanda mengubah statusnya menjadi tahanan politik yang harus dijauhkan dari pengaruh dan basis massanya di tanah kelahiran.

Rute pengasingannya dirancang dengan cermat oleh kolonial untuk memutus seluruh jejaring spiritual dan perlawanan. Dimulai dari Cianjur di Jawa Barat, kemudian dilanjutkan ke Ambon yang terpencil, hingga akhirnya ia ditambatkan di Minahasa, Sulawesi Utara. Setiap tahap pemindahan adalah upaya sistematis untuk menetralkan karisma seorang ulama pejuang, namun ironisnya, setiap tempat yang disinggahi justru menjadi saksi bagaimana keteguhan iman seorang tahanan politik tetap menyala meski terkurung jauh dari kampung halaman.

Di Lotta, kehidupan Imam Bonjol berjalan dalam irama yang berbeda dari hiruk-pikuk peperangan. Ia tidak mendekam dalam sel sempit, melainkan menjalani hari-hari dalam pengawasan di sebuah rumah sederhana dengan aktivitas berkebun dan memelihara ternak. Di tengah masyarakat Minahasa yang mayoritas beragama Kristen, ia menjalin interaksi sosial yang damai. Tradisi lisan setempat menggambarkannya bukan sebagai tahanan perang yang berbahaya, melainkan sebagai tetua bijak yang hidup berdampingan dengan warga sekitar, termasuk para pejabat kolonial lokal dan tokoh-tokoh gereja.

Baca Juga :  Kejanggalan Data PBI: Jika 143,9 Juta Penerima, Separuh Penduduk RI Masuk Kategori Tidak Mampu

Untaian kisah masa pengasingan ini terekam dalam manuskrip berharga berjudul “Tambo Tuanku Imam Bonjol”, yang ditulis oleh putranya, Naali Sutan Caniago. Naskah yang ditulis di Manado ini menjadi jendela untuk melihat sisi kemanusiaan seorang pemimpin di penghujung hayatnya, merekam refleksi batin, dan menggambarkan bagaimana nilai-nilai perjuangan tetap dipelihara dalam ruang terbatas di perantauan paksa. Diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO, tambo ini menjadi bukti bahwa meski raga dibelenggu pengasingan, suara kebenaran tetap dapat diwariskan lintas generasi.

Pada 6 November 1864, setelah hampir tiga dekade hidup di tanah pengasingan, Tuanku Imam Bonjol wafat dan dimakamkan di Desa Lotta. Makamnya yang kini terawat menjadi titik temu berbagai elemen masyarakat, dari peziarah Sumatra hingga warga lokal Minahasa, dari tokoh agama hingga aparat negara. Perawatan bersama lintas latar belakang ini menjadikan makam tersebut sebagai simbol rekonsiliasi sejarah, ruang di mana masa lalu kolonial yang pahit bertransformasi menjadi warisan kebangsaan yang dirawat dengan hormat.

Kisah akhir hayat Imam Bonjol di Minahasa mengajarkan bahwa sejarah perjuangan Indonesia tidak pernah berdiri sendiri dalam sekat-sekat kedaerahan. Perlawanan yang dimulai dari ranah Minang menemukan titik akhirnya di tanah Minahasa, namun dalam perjalanan itu ia justru membangun jembatan antarbudaya dan keyakinan. Perjumpaan Islam Padri dengan masyarakat Kristen lokal dalam suasana damai membuktikan bahwa di atas segalanya, nilai-nilai kemanusiaan mampu merangkai perbedaan. Dari seorang “musuh kolonial”, ia kini dikenang sebagai bagian tak terpisahkan dari ingatan kolektif bangsa.

Penulis : Edy siregar

Editor : EMAS

Sumber Berita: Gurudok,fb

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Sejarah Para Wali: Penyebar Islam yang Membentuk Peradaban Nusantara
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:08 WIB

Dari Bukit Bonjol ke Lereng Minahasa: Akhir Perjalanan Seorang Imam di Pengasingan

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:17 WIB

Jejak Sejarah Para Wali: Penyebar Islam yang Membentuk Peradaban Nusantara

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB