KompasReal.id, Pukul 02.00 WIB, Jalan Lintas Timur Sumatera di ruas Jambi-Palembang tampak seperti lautan lampu rem yang berkedip-kedip. Ribuan kendaraan terjebak macet parah hingga puluhan kilometer, membuat perjalanan pulang kampung yang seharusnya ditempuh dalam 6 jam berubah menjadi pengalaman bertahan hidup selama lebih dari 15 jam. Wajah-wajah lelah terlihat dari balik kaca mobil, sementara anak-anak menangis kehausan di dalam kendaraan yang terpaksa dimatikan mesinnya untuk menghemat bahan bakar.
Budi Santoso (42), pemudik asal Pekanbaru yang menuju Palembang, bercerita bahwa ia terjebak dalam kemacetan sejak pukul 16.00 WIB sore hingga dini hari tanpa bisa bergerak signifikan. “Kami kehabisan makanan dan air minum. Anak saya yang berusia 5 tahun demam karena kepanasan di dalam mobil. Ini bukan mudik, ini ujian,” ujarnya dengan suara serak. Banyak pemudik lainnya terpaksa tidur di pinggir jalan atau di dalam mobil dengan kondisi yang tidak nyaman, sementara truk-truk besar mengandangkan diri di bahu jalan karena tidak kuat menanjak.
Di Jalintim Banyuasin-Muara Enim, pemandangan serupa terulang. Data Dinas Perhubungan Sumatera Selatan mencatat ada 22 titik jalan nasional yang rawan kemacetan selama masa mudik. Polda Sumsel bahkan harus mengandangkan 113 truk besar untuk mengurai kemacetan yang semakin parah. Jalur alternatif yang seharusnya menjadi solusi justru ikut padat karena volume kendaraan yang melonjak drastis, mencapai titik puncak pada H-3 Lebaran dengan antrean di beberapa titik mencapai 3-5 jam.
Kondisi di Tol Trans Sumatera tak kalah mencekam. Antrean kendaraan di Gerbang Tol Kalikangkung dan sepanjang koridor tol mengular hingga 10 kilometer pada puncak arus mudik 19 Maret 2026. Banyak pemudik yang terjebak dalam kondisi cuaca ekstrem, hujan deras disertai kabut tebal di daerah perbukitan, menambah risiko kecelakaan. Beberapa kendaraan mengalami mogok karena overheat, sementara bengkel darurat tidak bisa menjangkau karena jalan yang terlalu padat.
Kisah pilu juga datang dari para pemudik yang menggunakan bus ekonomi. Selain harus bertarung dengan kemacetan, mereka juga menghadapi kondisi kendaraan yang tidak layak, kelelahan akibat perjalanan yang berkepanjangan, dan risiko kesehatan seperti “flu bus” yang menular di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk. Di penyeberangan Merak-Bakauheni, antrean mengular panjang sejak dini hari, membuat pemudik harus menunggu berjam-jam hanya untuk bisa menyeberang ke Pulau Sumatera. Derita ini mengingatkan kembali bahwa tradisi mudik yang penuh makna, tetap menjadi ujian fisik dan mental bagi jutaan orang yang rindu bertemu keluarga di kampung halaman.
—



—
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: Ifakta.com













