Kekayaan Masa Lalu: Mengenal Artefak Kuno Indonesia

Redaksi

- Penulis

Minggu, 2 November 2025 - 17:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com – Indonesia, dengan rentang sejarah yang membentang dari masa prasejarah hingga era kerajaan-kerajaan besar, adalah gudang harta karun artefak kuno. Benda-benda peninggalan bersejarah ini tak hanya memperkaya koleksi museum, tetapi juga menjadi saksi bisu peradaban manusia yang pernah eksis di Nusantara. Artefak-artefak ini merupakan jendela untuk memahami kehidupan, kepercayaan, teknologi, dan seni para leluhur bangsa.

​Artefak dari Masa Prasejarah

​Jauh sebelum catatan tertulis ada, manusia purba telah meninggalkan jejak berupa alat-alat kehidupan sehari-hari. Penemuan-penemuan ini sering dikelompokkan berdasarkan zaman batu:

  • Zaman Paleolitikum (Batu Tua): Artefak yang ditemukan umumnya berupa kapak genggam (chopper) yang masih kasar dan belum diasah, serta alat serpih (flakes). Lokasi penemuan penting termasuk di Pacitan dan Ngandong.
  • Zaman Mesolitikum (Batu Tengah): Manusia mulai hidup menetap di gua-gua (abris sous roche). Artefak yang lebih halus muncul, seperti kapak pendek (hache courte), kapak Sumatera (pebble), dan alat-alat dari tulang.
  • Zaman Neolitikum (Batu Muda): Pada masa ini, manusia sudah bercocok tanam. Peninggalan yang menonjol adalah kapak persegi (beliung) dan kapak lonjong, serta gerabah, perhiasan, dan alat-alat lain yang menunjukkan perkembangan teknologi pengasahan.
  • Zaman Megalitikum (Batu Besar): Menghasilkan struktur batu berukuran besar yang berhubungan dengan pemujaan roh nenek moyang, seperti Menhir (tugu batu), Dolmen (meja batu), Sarkofagus (peti jenazah batu tunggal), dan Punden Berundak.

​Artefak dari Masa Kerajaan Hindu-Buddha

​Masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, seperti Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit, meninggalkan artefak yang bernilai seni dan sejarah tinggi.

  • Prasasti: Merupakan catatan tertulis di atas batu atau lempengan logam (tembaga, perunggu, emas). Prasasti memuat titah raja, penetapan sima (tanah bebas pajak), atau puji-pujian. Contohnya adalah Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya), Prasasti Ciaruteun (Tarumanagara), dan Prasasti Talang Tuo.
  • Candi: Bangunan suci yang berfungsi sebagai tempat ibadah atau makam raja. Candi Borobudur dan Candi Prambanan adalah contoh artefak struktural yang paling megah.
  • Arca: Patung yang dibuat dengan tujuan keagamaan, mewujudkan dewa-dewi atau tokoh suci. Contohnya Arca Budha di Kota Bangun dan berbagai arca Ganesya atau Wisnu yang tersebar di berbagai wilayah.
  • Nekara: Genderang besar dari perunggu yang merupakan hasil budaya perundagian pada masa akhir prasejarah hingga awal masa sejarah. Nekara ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, dan pulau-pulau lainnya.
Baca Juga :  Gejala Depresi dan Cara Mengatasinya, Simak Penjelasannya !

​Artefak dari Masa Islam dan Kolonial

​Periode masuknya Islam dan kolonialisme juga menyisakan artefak penting:

  • Makam Kuno: Kompleks makam raja atau ulama yang menunjukkan akulturasi budaya, seperti Makam Sultan Malikussaleh.
  • Uang Kuno: Berupa koin atau mata uang yang digunakan pada masa kerajaan Islam atau masa kolonial.
  • Benteng dan Bangunan Kolonial: Bangunan yang berfungsi sebagai pertahanan atau pusat administrasi, seperti Benteng Vredeburg di Yogyakarta.

​Upaya Pelestarian dan Repatriasi

​Sayangnya, banyak artefak Indonesia yang sempat dibawa ke luar negeri pada masa kolonial. Belakangan ini, pemerintah Indonesia gencar melakukan upaya repatriasi (pengembalian) artefak-artefak tersebut, seperti ratusan benda bersejarah yang dikembalikan dari Belanda.

​Artefak kuno Indonesia adalah warisan tak ternilai yang harus dijaga dan dipelajari. Melalui benda-benda ini, kita dapat menelusuri akar sejarah bangsa dan memahami betapa kayanya peradaban Nusantara di masa lalu. (KR/gm)

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai
Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”
Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara
Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan
Ketika Lapar Menjadi Terapi: Rahasia Perbaikan Tubuh dari Dalam Sel
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Ketika Alam Membalas: Bencana Sumatera dan Luka yang Tidak Lagi Bisa Ditutup
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 19:26 WIB

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:32 WIB

Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:07 WIB

Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara

Sabtu, 3 Januari 2026 - 21:37 WIB

Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

Minggu, 28 Desember 2025 - 16:27 WIB

Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan

Berita Terbaru