KompasReal.id, Di tengah hiruk-pikuk kota Pematangsiantar yang semakin modern, sebuah rumah sederhana di kawasan Pasar Horas masih menyimpan denyut nadi budaya Batak Toba yang kian langka. Di sana, seorang perempuan berusia 68 tahun, Nommensen boru Sihombing, setiap hari duduk di depan alat tenun tradisional (gedogan) sambil menyanyikan lagu-lagu gondang Batak pelan. Ulos yang ditenunnya bukan sekadar kain, melainkan cerita hidup, doa, dan identitas leluhur yang ia wariskan kepada generasi muda.
Nommensen mulai belajar menenun sejak berusia 12 tahun dari sang ibu. Dulu, hampir setiap rumah di kampungnya memiliki gedogan. Kini, ia salah satu dari sedikit penenun ulos tradisional yang masih bertahan di kota ini. “Kalau tidak saya lanjutkan, ulos asli Batak Toba yang bermotif asli bisa hilang ditelan zaman,” ujarnya sambil menunjukkan ulos Sadum dan Ragidup yang membutuhkan waktu hingga 3 bulan untuk satu helai.
Tantangan terbesar datang dari maraknya ulos printing dan mesin tenun massal yang jauh lebih murah. Harga ulos tenun tangan Nommensen bisa mencapai Rp 5–12 juta, sementara versi cetak hanya ratusan ribu. Meski begitu, ia tetap menolak kompromi kualitas. Beberapa anak muda kini mulai mendekatinya, termasuk cucunya sendiri yang belajar via video TikTok untuk melestarikan tradisi ini secara digital.
Upaya pelestarian ini mendapat angin segar dari komunitas lokal dan pemerintah kota. Tahun lalu, Pemkot Pematangsiantar menggelar pameran ulos tradisional di Alun-alun, di mana karya Nommensen menjadi salah satu daya tarik utama. “Kami ingin ulos bukan hanya pakaian adat, tapi juga produk ekonomi kreatif yang membanggakan,” kata salah seorang pegiat budaya setempat.
Di usia senja, Nommensen tak lagi menenun hanya untuk hidup, tapi untuk menjaga api budaya tetap menyala. “Selama tangan ini masih bisa menggerakkan benang, ulos Batak akan terus hidup,” katanya dengan senyum tipis. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan, ada nilai-nilai lama yang patut dipertahankan—dan generasi muda Pematangsiantar mulai mendengar panggilan itu.
KR03
Penulis : Edy siregar
Editor : EMAS













