KompasReal.id, Ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk memainkan peran sebagai penengah dalam konflik global langsung menghadapi ujian berat. Rencananya untuk terbang ke Teheran guna menawarkan mediasi bagi penyelesaian konflik yang melibatkan Iran, disambut dengan respons dingin dari Duta Besar Iran untuk Indonesia. Sikap Tehran ini menjadi tantangan nyata bagi “diplomasi kilat” yang hendak dijalankan Indonesia di tengah situasi Timur Tengah yang kian mencekam.
Duta Besar Iran dengan tegas menyatakan bahwa di tengah agresi militer yang masih berlangsung, upaya negosiasi atau diplomasi meja bundar dinilai “tak berguna” dan tidak relevan bagi negaranya. Iran memandang bahwa mediasi tidak akan membuahkan hasil selama pihak agresor tidak menghentikan serangan dan menarik pasukannya secara total. Fokus utama Teheran saat ini adalah pada pertahanan nasional dan pembalasan atas kematian pemimpin mereka, sehingga pembicaraan damai dianggap sebagai langkah yang prematur.
Lebih dalam lagi, respons ini mencerminkan tingginya rasa ketidakpercayaan Iran terhadap proses diplomasi internasional yang selama ini dinilai kerap memihak kepentingan negara-negara adidaya. Menurut Dubes, mediasi hanya bisa terjadi jika ada keadilan hukum internasional yang ditegakkan terhadap pihak-pihak yang memulai peperangan. Iran khawatir bahwa tanpa jaminan keamanan dan pengakuan atas pelanggaran kedaulatan, pembicaraan damai hanya akan menjadi alat bagi pihak Barat untuk menunda respons militer yang telah direncanakan Tehran.
Meskipun mengapresiasi niat baik Indonesia sebagai negara sahabat, sikap keras Iran ini menjadi sinyal bahwa mediasi fisik bukanlah langkah awal yang tepat. Mereka justru berharap Indonesia dapat menggunakan pengaruhnya di organisasi internasional untuk memberikan tekanan politik yang kuat agar serangan militer segera dihentikan. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa membangun rasa saling percaya melalui forum-forum multilateral lebih diutamakan daripada kunjungan diplomatik langsung saat situasi masih diliputi permusuhan terbuka.
Kendati mendapat respons yang kurang optimis, pemerintah Indonesia tampaknya tetap pada rencana awalnya untuk terus membuka jalur komunikasi. Keberanian Presiden Prabowo untuk tetap menawarkan diri sebagai penengah di tengah penolakan Iran menunjukkan ambisi Indonesia untuk berperan lebih dari sekadar penonton dalam krisis global. Kini dunia menanti apakah kunjungan tersebut akan tetap terlaksana dan apakah Indonesia mampu melunakkan sikap keras Teheran agar mau kembali ke meja perundingan demi stabilitas dunia, atau justru situasi akan terus memburuk.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: https://Lininasional













