Tapanuli Raya di Ambang Ambruk: Banjir–Longsor Adalah Tagihan dari Hutan yang Dirampas”

Redaksi

- Penulis

Jumat, 28 November 2025 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal,com,Rentetan banjir dan longsor yang melumpuhkan Tapanuli Raya bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan alarm keras bahwa wilayah ini sedang berada di ambang kehancuran ekologis. Sibolga terendam dan terisolasi, Padang Sidempuan ikut banjir, Tapanuli Selatan terputus di banyak titik, sementara Tapanuli Utara mencatat longsor mematikan. Ini bukan insiden biasa—ini adalah kegagalan kita menjaga benteng terakhir perlindungan alam.

Akses vital seperti Sipirok–Tarutung, Batang Toru–Sibolga, hingga Tarutung–Sibolga porak-poranda dihantam longsor. Sihita Huis runtuh total, membuat ribuan warga terputus dari pusat ekonomi dan layanan kesehatan. Kerusakan ini menunjukkan bahwa Tapanuli Raya kini rapuh, di mana satu malam hujan deras saja sudah cukup untuk memutus urat nadi berbagai kabupaten.

Di Mandailing Natal, kerusakan terjadi berlapis: longsor menutup jalur strategis, banjir menggenangi Natal hingga Panyabungan, dan Sinunukan kembali terendam. Banyak desa terisolasi, logistik terhambat, dan warga terpaksa bertahan dengan kondisi minim. Titik bencana kini begitu banyak hingga sulit lagi dipetakan, seolah seluruh kawasan sedang “runtuh” bersamaan.

Realitas pahitnya: ini bukan murni ulah cuaca. Ini adalah akibat dari bertahun-tahun pembiaran terhadap perusakan hutan, alih fungsi lahan tanpa kendali, kegiatan perusahaan yang membuka area secara brutal, serta izin-izin HGU dan erambahan hutan yang diberikan tanpa pengawasan ketat. Ketika gunung kehilangan kulit dan akarnya, maka tanah hanya menunggu waktu untuk meluncur menghancurkan apa pun di bawahnya.

Dalam kekacauan ini, masyarakat harus menahan diri. Panik dan saling menyalahkan tidak akan membuka akses jalan, tidak akan memulihkan jembatan, dan tidak akan menghidupkan kembali korban yang telah hilang. Yang dibutuhkan sekarang adalah kesabaran, koordinasi, dan solidaritas. Kita harus mengamankan warga, menjaga informasi tetap jernih, dan membantu petugas di lapangan tanpa memperburuk situasi.

Baca Juga :  Operasi Pekat Toba 2025: Sukses Penindakan, Namun Upaya Pencegahan Pemerintah Kota Padangsidimpuan Dipertanyakan

Namun setelah fase darurat ini berlalu, tidak boleh ada lagi kompromi. Pemerintah harus berani menata ulang seluruh izin HGU, erambahan hutan, dan aktivitas perusahaan di Tapanuli. Evaluasi total, cabut yang merusak, perketat pengawasan, dan pulihkan kawasan yang telah dihancurkan. Bencana ini adalah ultimatum: jika pengelolaan hutan tidak berubah, Tapanuli Raya akan terus menagih korban—dan tagihan itu akan semakin besar.KR03


 

 

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menakar Efektivitas PP No. 42 Tahun 2025: Apakah Kenaikan Tunjangan Menjamin Keadilan yang Bersih?
Menakhodai Demokrasi dari ‘Kontes Popularitas’ ke ‘Filter Kualitas’
Menaklukkan Hawa Nafsu Keserakahan Diri Sendiri
Hari HAM Sedunia: Di Balik Peringatan, 400 Nasib yang Masih Menggantung
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Kompas Real Harus Berdiri Sebagai Suara Independen, Bukan Sebagai Penyiar Pemerintah
Ketika Media Online Kehilangan Jiwa: Tantangan Independensi di Era Cepat Tayang”
Peran Media Sosial dalam Pembentukan Opini Publik: Senjata Baru Demokrasi dan Tantangan Polarisasi
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:47 WIB

Menakar Efektivitas PP No. 42 Tahun 2025: Apakah Kenaikan Tunjangan Menjamin Keadilan yang Bersih?

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:56 WIB

Menakhodai Demokrasi dari ‘Kontes Popularitas’ ke ‘Filter Kualitas’

Rabu, 24 Desember 2025 - 12:21 WIB

Menaklukkan Hawa Nafsu Keserakahan Diri Sendiri

Rabu, 10 Desember 2025 - 08:22 WIB

Hari HAM Sedunia: Di Balik Peringatan, 400 Nasib yang Masih Menggantung

Selasa, 9 Desember 2025 - 20:38 WIB

Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB