KompasReal.id, Mandailing Natal – Kondisi Sungai Rantopuran yang melintasi wilayah Gunung Tua Raya, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, tak kunjung jernih selama dua pekan terakhir. Padahal, sebelumnya air sungai tersebut biasanya kembali bersih setelah satu atau dua hari meski sempat keruh akibat hujan.
Sungai Rantopuran menjadi sumber utama kebutuhan air bagi warga desa Gunung Tua Julu, Gunung Tua Tonga, Gunung Tua Jae, Gunung Tua Lumban Pasir, Gunung Tua Penggorengan, hingga Desa Iparbondar. Air sungai digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK), air minum, hingga dialirkan ke masjid dan rumah warga melalui PAM desa.
Akibat kondisi air yang terus keruh, warga kini mulai mengalami krisis air bersih.
Keluhan masyarakat disebut sudah disampaikan kepada para kepala desa di wilayah Gunung Tua Raya, namun hingga kini dinilai belum ada langkah nyata untuk mencari penyebabnya.
Persoalan tersebut pun menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Ikatan Pemuda Mandailing Natal (IPM) turut menyoroti kondisi Sungai Rantopuran yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
“Hari ini kita tantang para kepala desa se-Gunung Tua Raya untuk mencari penyebab keruhnya Sungai Rantopuran ini. Para kades wajib empati kepada warga. Mereka tahu persis kondisi sungai ini karena setiap desa memiliki PAM masing-masing,” ujar Wakil Ketua IPM, Syarifuddin Ray, kepada media ini, Sabtu (09/05/2026).
Syarifuddin menilai, jika para kepala desa benar-benar peduli terhadap kondisi masyarakat, maka upaya mencari sumber penyebab keruhnya sungai bukanlah hal sulit dilakukan.
“Caranya mudah. Setiap desa tinggal mengutus perwakilan untuk meninjau ke hulu sungai. Dengan begitu penyebabnya akan diketahui,” katanya.
Menurutnya, kondisi air sungai yang terus keruh berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Ia menyebut, saat ini warga terpaksa tetap menggunakan air sungai untuk mandi meski menyebabkan kulit terasa kering dan berkapur.
“Di Gunung Tua Jae sekarang sumur bor warga terus didatangi masyarakat dari berbagai desa untuk mengambil air bersih. Itu tanda masyarakat sudah mengalami krisis air,” lanjutnya.
Ia menegaskan, sikap IPM bukan untuk mencari sensasi, melainkan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
“Air adalah sumber kehidupan. Kami peduli terhadap masalah ini bukan karena merasa ahli lingkungan atau ingin mencari perhatian. Sebagai generasi muda, kami percaya sungai bukan sekadar aliran air, tetapi denyut kehidupan sebuah daerah,” ungkapnya.
Syarifuddin juga mengingatkan agar kondisi sungai yang terus keruh tidak dianggap sebagai hal biasa.
“Yang mengkhawatirkan bukan hanya warna airnya, tetapi ketika kondisi ini perlahan dianggap normal. Padahal setiap air yang berubah keruh pasti memiliki sebab. Bisa karena aktivitas di hulu, perubahan alam, atau hal lain yang sedang terjadi di balik arus sungai itu,” tandasnya. (KR11).
Penulis : Kr11
Editor : Emas












