Jelajah Kuliner Nusantara yang Terlupakan: Menyingkap Warisan Rasa Tradisional

Redaksi

- Penulis

Jumat, 31 Oktober 2025 - 21:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com – Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner global, banyak hidangan dan jajanan tradisional Nusantara yang perlahan tenggelam, hanya hidup dalam ingatan generasi tua atau muncul sesekali di acara-acara adat. Kuliner yang terlupakan ini bukanlah sekadar resep lama, melainkan warisan rasa yang menjadi cerminan peradaban, kearifan lokal, dan sejarah panjang Indonesia.

​Melestarikan hidangan ini adalah upaya menjaga identitas bangsa. Berikut adalah beberapa permata kuliner Nusantara yang kini kian langka dan sulit ditemukan.

​I. Hidangan Utama Sarat Rempah yang Langka

​Beberapa masakan utama kini jarang ditemui karena kerumitan resepnya atau kelangkaan bahan baku utamanya.

  • Sayur Babanci (Betawi): Meskipun namanya mengandung kata ‘sayur’, hidangan khas Betawi ini unik karena justru tidak memiliki sayuran hijau. Sayur Babanci berbahan utama daging sapi dan kelapa muda. Kelangkaannya disebabkan oleh kesulitan mencari rempah-rempah tertentu yang wajib ada, seperti kedaung, temu mangga, dan tai angin. Sayur ini adalah bukti kekayaan rempah lokal yang bahkan sudah tidak dikenali lagi oleh generasi sekarang.
  • Bubur Bassang (Makassar): Bubur yang terbuat dari jagung ketan atau jagung pulut yang dimasak dengan santan dan tepung terigu. Disajikan hangat dengan taburan gula pasir, Bubur Bassang adalah sarapan sehat yang kini sulit ditemukan karena turunnya minat pasar terhadap makanan tradisional yang dianggap “tidak modern”.
  • Mangut Pari (Jawa Tengah): Hidangan dengan kuah santan kental berbumbu pedas dan gurih ini memiliki ciri khas dari ikan pari asap (iwak pe). Mangut Pari menjadi langka karena berkurangnya populasi ikan pari dan kesulitan mendapatkan ikan pari asap berkualitas, yang membuat penjual enggan melanjutkan produksi.
Baca Juga :  Daun Alpukat: Bukan Sekadar Limbah, Tapi Kaya Manfaat Kesehatan!

​II. Jajanan Pasar dan Camilan dengan Kisah Historis

​Camilan tradisional, yang dulunya mudah ditemukan di pasar, kini tergeser oleh jajanan modern yang lebih praktis.

  • Kue Rangi (Betawi): Jajanan sederhana yang terbuat dari adonan tepung sagu dan kelapa parut yang dibakar di atas cetakan cekung, kemudian disiram saus gula merah kental. Rasa gurih-manis dengan aroma smoky yang khas ini merupakan bagian dari warisan kuliner Betawi yang otentik.
  • Clorot (Jawa Tengah): Kue basah yang unik karena dibungkus menggunakan daun kelapa muda (janur) yang dibentuk kerucut panjang. Terbuat dari tepung beras, gula merah, dan santan, Clorot memiliki tekstur kenyal dan rasa manis legit. Teknik membungkusnya yang rumit menjadi salah satu faktor mengapa penjualnya kian berkurang.
  • Gulo Puan (Palembang): Camilan mewah yang dulunya hanya dikonsumsi oleh keluarga Kesultanan Palembang. Hidangan manis ini terbuat dari gula dan susu kerbau yang dimasak hingga mengental seperti permen lembut. Gulo Puan sangat langka karena bahan utamanya, susu kerbau, kini semakin sulit diperoleh.
  • Mi Lethek (Yogyakarta): Mi khas Bantul yang unik karena memiliki warna keabu-abuan (lethek dalam bahasa Jawa berarti kusam atau kotor). Mi ini dibuat secara tradisional dari singkong kering (gaplek) tanpa pewarna kimia, menunjukkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan pangan alternatif.

​III. Upaya Pelestarian: Menjaga Identitas Rasa

​Kelangkaan kuliner tradisional ini umumnya disebabkan oleh tiga faktor: rumitnya proses pembuatan, sulitnya mencari bahan baku otentik (terutama rempah langka), dan rendahnya minat pasar yang lebih memilih makanan cepat saji.

​Untuk melestarikan warisan rasa ini, diperlukan upaya kolektif:

  1. Regenerasi Penjual: Mendorong generasi muda untuk mempelajari resep kuno dan membuka kedai modern yang menyajikan hidangan langka.
  2. Modifikasi Adaptif: Mengadaptasi penyajian agar lebih menarik bagi pasar modern, tanpa mengubah esensi dan bumbu tradisional.
  3. Dukungan Bahan Baku: Mendukung petani lokal untuk membudidayakan kembali rempah-rempah dan bahan baku yang mulai langka.
Baca Juga :  Adakah Batasan Aman Minum Kopi agar Tak Bahayakan Jantung? Ini Kata Pakar Harvard

​Jelajah kuliner Nusantara yang terlupakan adalah panggilan untuk kembali menghargai filosofi dan sejarah yang terkandung dalam setiap gigitan makanan tradisional Indonesia. (KR/gm)

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai
Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”
Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara
Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan
Ketika Lapar Menjadi Terapi: Rahasia Perbaikan Tubuh dari Dalam Sel
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Ketika Alam Membalas: Bencana Sumatera dan Luka yang Tidak Lagi Bisa Ditutup
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 19:26 WIB

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:32 WIB

Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:07 WIB

Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara

Sabtu, 3 Januari 2026 - 21:37 WIB

Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

Minggu, 28 Desember 2025 - 16:27 WIB

Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB