KompasReal.id, Hong Kong menjelma sebagai ikon global, sebuah metropolis dengan cakrawala yang dipenuhi gedung pencakar langit dan gemerlap distrik keuangan yang menjadi pusat kekayaan dunia. Namun, di balik fasad kemewahan dan simbol kesuksesan ekonomi itu, tersembunyi realitas pahit yang kontras. Ribuan warganya terpaksa bertahan hidup dalam “Coffin House” atau rumah peti mati, sebuah fenomena perumahan ekstrem yang lahir dari ketidakmampuan pasar menyediakan hunian layak dengan harga terjangkau di kota dengan harga properti termahal di planet ini.
Di dalam hunian yang sempit dan pengap, satu unit apartemen biasa dipartisi menjadi puluhan bilik kayu mungil, biasanya hanya berukuran 1,5 x 2 meter. Di ruang yang lebih kecil dari sel tahanan ini, penghuninya harus menjalani seluruh aspek kehidupan. Meluruskan kaki saat tidur adalah kemewahan yang langka, sementara seluruh harta benda—mulai dari pakaian, persediaan makanan, hingga peralatan elektronik sederhana—harus ditumpuk secara vertikal karena tidak ada ruang untuk bergerak. Udara sumpek tanpa ventilasi dan ancaman hama menjadi konsekuensi harian yang harus diterima.
Para penghuni “rumah peti mati” ini umumnya adalah tulang punggung kota yang tak terlihat: para buruh bergaji rendah, petugas kebersihan, dan pensiunan dengan tabungan minim. Ironisnya, bilik-bilik sempit ini sering kali berlokasi strategis di pusat kota, hanya beberapa blok dari distrik bisnis mewah tempat mereka bekerja. Mereka rela mengorbankan privasi, kesehatan, dan martabat demi satu tujuan sederhana: memiliki tempat untuk berlindung dan terhindar dari kerasnya tidur di jalanan.
Fenomena ini menjadi cermin paling jujur dari kesenjangan sosial yang menganga lebar di Hong Kong. Antrean panjang untuk mendapatkan rumah subsidi pemerintah bisa memakan waktu bertahun-tahun, memaksa mereka yang putus asa untuk masuk ke dalam bilik-bilik kayu tersebut. Di kota yang melambangkan kejayaan kapitalisme ini, ruang untuk sekadar bernapas bagi masyarakat kelas bawah telah menjadi komoditas yang harganya meroket tak terkendali, mengorbankan kebutuhan dasar manusia demi keuntungan ekonomi segelintir pihak.
Kisah pilu dari “Coffin House” terus bergema hingga ke panggung internasional, menjadi kritik tajam terhadap kegagalan sistem perkotaan dalam memenuhi hak paling fundamental warganya. Lebih dari sekadar tempat tinggal, rumah-rumah peti mati ini adalah simbol keputusasaan yang tersembunyi di balik gemerlap kota global. Mereka yang hidup dalam kemudahan diingatkan untuk bersyukur, namun yang terpenting, cerita ini harus menjadi seruan bagi lahirnya solusi konkret bagi krisis kemanusiaan yang terus bersembunyi di balik dinding-dinding kayu Hong Kong.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: China dayli













