Naga Bonar Sesungguhnya: Timur Pane, Jenderal Rakyat yang Ditakuti Belanda di Medan Area

Redaksi

- Penulis

Kamis, 5 Februari 2026 - 20:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Di tengah kobaran Revolusi Fisik Sumatera Timur, ketika republik masih rapuh dan senjata kalah banyak dari tekad, muncul sosok Timur Pane. Ia bukan perwira akademi, bukan bangsawan, melainkan pejuang rakyat yang lahir dari kerasnya jalanan dan kemarahan terhadap penjajahan. Dari Medan Area, namanya menjelma legenda perlawanan yang ditakuti Belanda.

Timur Pane memimpin Legiun Penggempur Naga Terbang, sebuah laskar mandiri yang terbentuk dari pemuda pasar, buruh, dan rakyat jelata. Laskar ini lahir bukan dari komando pusat, melainkan dari kehendak rakyat yang menolak kembalinya kolonialisme NICA. Di wilayah selatan dan timur Medan, pasukan ini bergerak cepat, sporadis, dan tanpa kompromi, membuat posisi Belanda terus diguncang.

Dalam situasi revolusi yang serba darurat, Timur Pane menyematkan gelar Jenderal Mayor pada dirinya. Bukan demi ambisi pribadi, tetapi sebagai alat legitimasi di medan perang. Ia memahami bahwa dalam perang rakyat, wibawa sering kali lebih menentukan daripada struktur formal. Sikap inilah yang membuatnya dijuluki sebagai “Naga Terbang”, sosok yang muncul tiba-tiba dan menghantam keras.

Namun keberanian itu juga membawa kontroversi. Pasukan Naga Terbang dikenal militan, tetapi kerap dituding bertindak di luar kendali, termasuk tuduhan penjarahan. Ketegangan dengan militer reguler pun tak terhindarkan. Timur Pane berulang kali berselisih dengan Kolonel Hotman Sitompul karena tuntutan senjata, sementara pimpinan TNI khawatir pada disiplin laskar yang bergerak di luar struktur resmi.

Konflik internal revolusi mencapai titik serius ketika Wakil Presiden Mohammad Hatta turun langsung ke Sumatera Timur pada 1947 untuk meredam perselisihan antarlaskar. Pengaruh Timur Pane terlalu besar untuk diabaikan, namun terlalu liar untuk sepenuhnya diterima oleh republik yang sedang menata angkatan perangnya. Ia menjadi simbol dilema revolusi: antara ketertiban negara dan keberanian rakyat bersenjata.

Baca Juga :  Tomasy Kecamatan Panyabungan Timur Harapkan Pemda Madina Lakukan Pemasangan Lampu Jalan Desa Salambue-Tempat Rekreasi Pintu Air Desa Padang Laru

Ironi itu berpuncak pada 1948 saat kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) diberlakukan. Legiun Penggempur Naga Terbang dibubarkan, Timur Pane dicopot, dan namanya perlahan disingkirkan dari sejarah militer resmi. Sosok yang kerap disebut sebagai “Naga Bonar sesungguhnya” ini menang di medan perang, namun kalah dalam ingatan negara—sebuah nasib yang kerap menimpa pejuang akar rumput revolusi.

 

Penulis : Edy siregar

Editor : EMAS

Sumber Berita: Balai pustaka arsip medan

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 20:01 WIB

Naga Bonar Sesungguhnya: Timur Pane, Jenderal Rakyat yang Ditakuti Belanda di Medan Area

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB