KompasReal.id, Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan insiden memilukan di Baebunta Selatan. Seorang guru SMP, Arpan Lisman, harus menderita luka robek di alis dan lebam di mata setelah dipukuli secara membabi buta oleh muridnya sendiri. Ironisnya, awal mula konflik ini adalah tindakan profesional sang guru dalam menegakkan disiplin—menegur siswa yang bolos pada jam pelajaran. Alih-alih mendapatkan rasa hormat dan kepatuhan, yang diterima justru makian dan kekerasan fisik.
Kronologi kejadian semakin menyayat hati. Setelah menendang pantat siswa berinisial YS secara refleks—sebuah tindakan yang patut dikritisi—guru tersebut justru menjadi korban agresi yang jauh lebih brutal. Siswa tersebut kembali dengan kata-kata kasar, lalu melancarkan pemukulan tak terkendali. Adegan ini bukan lagi sekapur sirih “kenakalan remaja”, melainkan sebuah bentuk penganiayaan yang mencederai fisik dan mental seorang pendidik.
Luka di wajah Pak Arpan mungkin akan sembuh, namun luka yang lebih dalam di hati seorang guru mungkin akan terus menganga. Bagaimana seorang pendidik dapat menjalankan tugasnya dengan tenang jika penegakan aturan dasar justru berisiko mengancam keselamatan jasmaninya? Insiden ini adalah tamparan keras bagi martabat profesi guru, yang seharusnya dihormati, justru diposisikan sebagai pihak yang rentan dan tak berdaya di lingkungan pendidikan sendiri.
Fenomena ini memantulkan pertanyaan besar tentang arah pendidikan kita. Jika figur guru sudah tidak lagi dihormati, bahkan bisa diserang dengan mudah, ke mana kita akan membawa proses belajar-mengajar? Apakah ini bagian dari gejala degradasi moral yang lebih luas, di mana otoritas ilmu pengetahuan dan pembinaan karakter tergerus oleh budaya kekerasan dan ketidakpatuhan? Kekhawatiran muncul bahwa pendidikan yang dilemahkan akan melahirkan generasi yang kurang ajar, yang kemudian berdampak pada kualitas masyarakat secara keseluruhan.
Akhirnya, insiden ini harus menjadi alarm darurat bagi semua pemangku kepentingan. Tidak cukup hanya menyelesaikan secara hukum atau memberi label “kenakalan”. Perlu introspeksi mendalam: di mana salah kita dalam membangun ekosistem pendidikan? Bagaimana menumbuhkan kembali rasa hormat kepada guru sebagai fondasi peradaban? Jika tidak, kita hanya akan menjadi penonton pasif atas lingkaran setan kebodohan dan kekerasan, yang ujung-ujungnya mengorbankan masa depan bangsa sendiri. Guru yang terluka hari ini adalah pertanda pendidikan yang sedang sekarat.
Penulis : Edy siregar
Editor : EMAS













