KompasReal.id, Pematangsiantar – Di tengah masih berlangsungnya masa pengungsian akibat banjir besar yang melanda sebagian wilayah Sumatera Utara sejak akhir 2025 lalu, ratusan anak di Kota Pematangsiantar mendapat secercah harapan baru. Komunitas relawan “Siantar Peduli Anak” bersama Forum Pemuda Lintas Agama menyalurkan 450 paket perlengkapan sekolah kepada anak-anak korban banjir di posko pengungsian Kelurahan Teladan dan sekitarnya, Senin (19/1/2026).
Paket bantuan berisi buku tulis, alat tulis, tas sekolah, seragam cadangan, serta buku cerita anak ini diharapkan dapat membantu anak-anak tetap melanjutkan belajar meski masih tinggal di tenda darurat dan hunian sementara (huntara).
Menurut data posko pengungsian setempat, sedikitnya 1.200 jiwa di Pematangsiantar masih mengungsi hingga pertengahan Januari 2026, dengan mayoritas adalah keluarga dengan anak usia sekolah.
“Anak-anak ini sudah kehilangan banyak hal: rumah, mainan, bahkan buku pelajaran mereka hanyut terbawa banjir. Kalau kita biarkan mereka putus sekolah lagi, ini akan menjadi kemiskinan baru di masa depan,” ujar Ketua Siantar Peduli Anak, Ibu Rina Sitorus, saat menyerahkan bantuan secara simbolis kepada seorang siswi SD kelas 5 bernama Siska (11 tahun).

Siska, yang rumahnya di kawasan pinggir Sungai Bah Bolon rusak parah, mengaku senang sekali mendapat buku baru. “Saya kangen sekolah. Sekarang bisa belajar lagi di tenda, meskipun kadang hujan masuk,” katanya sambil tersenyum malu-malu.
Aksi sosial ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Drs. H. Maruli Tua Pasaribu, M.Pd. Beliau menyatakan pemerintah daerah sedang berkoordinasi dengan pusat untuk mempercepat pembangunan huntara yang layak serta program sekolah darurat berbasis komunitas.
“Kami targetkan akhir Februari 2026, sebagian besar anak bisa kembali belajar di ruang kelas sementara yang lebih baik,” tuturnya.
Isu serupa juga terjadi di berbagai daerah lain di Sumut seperti Simalungun, Toba, dan Tapanuli Utara, di mana banjir menyebabkan ribuan anak kehilangan akses pendidikan normal. Pengamat sosial dari Universitas Negeri Medan, Dr. Agus Salim, menilai bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya membangun fisik, tetapi juga harus memperkuat “kewarasan sosial” masyarakat.
“Pendidikan adalah benteng terakhir melawan kemiskinan antargenerasi. Kalau anak-anak ini terlantar sekarang, kita akan menuai masalah sosial yang lebih besar 10–15 tahun ke depan,” pungkasnya.
Komunitas Siantar Peduli Anak berencana melanjutkan program serupa di kecamatan lain selama bulan Januari–Februari 2026, sambil mengajak masyarakat dan perusahaan lokal untuk ikut berkontribusi. Donasi dapat disalurkan melalui rekening resmi komunitas atau langsung ke posko pengungsian.
Berita ini menjadi pengingat bahwa di balik bencana alam, solidaritas sosial masyarakat Sumatera Utara tetap menjadi kekuatan utama dalam proses pemulihan. (KR03)
Penulis : Edy siregar
Editor : EMAS












