KompasReal.com, Di jantung Dili,ibukota Timor Leste, sebuah ironi besar bergulir di atas jalanan berdebu. Di sini, Toyota Land Cruiser, Mitsubishi Pajero, dan Hummer bukanlah simbol kemewahan yang eksklusif, melainkan kendaraan sehari-hari yang dikemudikan warga biasa. Pemandangan ini adalah tamparan halus bagi siapa pun yang terbiasa dengan hierarki otomotif dan beban pajak yang menghimpit di Indonesia.
Ilusi tentang kekayaan pun terpatahkan.Rakyat Timor Leste tidaklah mendadak menjadi jutawan. Rahasia di balik “surga otomotif” ini sederhana: absennya negara sebagai pemungut pajak yang berlebihan. Mereka hidup dalam sistem yang melihat kendaraan sebagai alat, bukan sapi perah untuk dieksploitasi melalui strata pajak yang membelenggu.
Mari hadapi angka yang menyakitkan.Dengan uang sekitar Rp 270 juta, seorang pembeli di Jakarta hanya akan membawa pulang mobil kelas entry-level yang kerap diolok-olok “kaleng kerupuk”. Uang yang sama di Dili ditukar dengan kunci Mitsubishi Pajero Sport atau Toyota Fortuner tahun muda, hasil impor langsung yang masih perkasa.
Jurang lebar ini bersumber dari filosofi proteksi yang berbeda.Pemerintah Indonesia membangun tembok tinggi dengan alasan menjaga industri dalam negeri, yang pada praktiknya memaksa konsumen membeli produk baru rakitan lokal dengan harga yang sudah digelembungkan oleh lapisan-lapisan pajak: PPnBM, PPN, BBNKB, dan PKB yang memberatkan.
Sementara itu,Timor Leste, tanpa industri otomotif untuk “dilindungi”, memilih jalan pragmatis. Mereka membuka keran impor dengan tarif yang hampir tak terasa: bea masuk dan pajak penjualan masing-masing hanya 2,5%, serta pajak tahunan yang ringan seperti biaya administrasi. Hasilnya, harga mobil mencerminkan nilai wajar, bukan akumulasi bea.
Realitas ini melahirkan pertanyaan mendasar tentang keadilan.Mana yang lebih manusiawi: membiarkan rakyat memiliki kendaraan tangguh dengan harga terjangkau untuk menghadapi jalan yang belum sempurna, atau membangun jalan mulus sambil menjerat rakyat dengan utang panjang dan pajak abadi untuk mobil berpelat tipis yang harganya tidak wajar?
Kita mungkin memandang Timor Leste dengan sudut pandang infrastruktur yang tertinggal.Namun, dari balik kemudi kendaraan besi mereka yang dibeli dengan harga terjangkau, bisa jadi merekalah yang memandang kita dengan renungan: siapakah yang sesungguhnya terperangkap dalam “penjara” kebijakan, dan siapakah yang lebih merasakan kemerdekaan yang hakiki dalam memilih roda yang menggerakkan hidup mereka?













