“Tangis Ibu Bhayangkari Tak Terbendung: Terjerat Skema Maut, Gaji Suami Tersisa Rp300 Ribu, Keadilan Masih Menggantung”

KompasReal.id

- Editor

Rabu, 8 April 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.id, Padangsidimpuan |Kota Padangsidimpuan diguncang kisah pilu yang menyayat hati. Sebanyak 34 keluarga anggota polisi kini hidup dalam tekanan ekonomi yang mencekik, setelah terjerat dugaan skema penipuan berkedok investasi.

 

Ironisnya, di tengah luka yang belum sembuh, sosok Saripah Hanum Lubis (SL) yang sempat ditetapkan sebagai tersangka justru dinyatakan bebas usai memenangkan gugatan praperadilan.

 

Pembebasan ini sontak memicu gelombang kekecewaan dari para korban yang merasa keadilan masih jauh dari genggaman.

 

Politisi dari partai berlambangkan Banteng itu keluar dari Lapas Padangsidimpuan pada Senin malam (6/4/2026), sekitar pukul 20.30 WIB.

 

Keputusan tersebut diambil setelah majelis hakim mengabulkan gugatan praperadilan yang diajukan terhadap penetapannya sebagai tersangka oleh Polres Padangsidimpuan.

 

Padahal, dalam konferensi pers, pihak kepolisian sebelumnya menyebut bahwa SL diduga turut berperan aktif membujuk para korban untuk menggadaikan SK demi mendapatkan pinjaman.

 

Iming-Iming Rp10 Juta, Berujung Nestapa

 

Cerita pilu datang dari salah satu keluarga korban. Mereka mengaku awalnya tergiur janji manis keuntungan hingga Rp10 juta per bulan.

 

Namun kenyataan berkata lain.

 

Alih-alih untung, mereka justru terjerat utang hingga ratusan juta rupiah. Salah satu korban bahkan mengaku total pinjamannya mencapai Rp450 juta akibat SK yang telah tergadai karena termakan bujuk rayu tersangka Risdianto Lubis yang merupakan suami Saripah.

 

Kini, gaji suaminya yang semula Rp3,5 juta per bulan hanya tersisa sekitar Rp300 ribu setelah dipotong cicilan.

 

“Dengan uang segitu, kami harus bertahan hidup. Kami punya dua anak, dan kebutuhan terus berjalan,” ujar korban dengan suara bergetar.

 

Dampak kasus ini tak hanya menghantam ekonomi, tapi juga masa depan anak-anak korban.

Baca Juga :  KPK Periksa Saksi Kunci, Usut Tuntas Dugaan Korupsi Kuota Haji

 

Ada keluarga yang kini harus menumpang hidup di rumah orang tua. Bahkan, anak-anak terpaksa ikut bekerja demi membantu kebutuhan sehari-hari.

 

“Anak saya sampai harus jadi tukang cuci gosok. Pendidikan mereka ikut terganggu,” ungkap seorang ibu dengan mata berkaca-kaca.

 

Beberapa korban lain mengaku tidak pernah tahu-menahu soal pinjaman besar yang tiba-tiba muncul. Suami mereka diduga diajak ke bank tanpa pemahaman penuh, lalu pulang membawa beban utang hingga Rp500 juta.

 

Yang paling menghantui, beban utang ini diprediksi akan berlangsung hingga masa pensiun.

 

Para korban kini tidak lagi berharap keuntungan besar. Mereka hanya ingin satu hal, yakni keadilan dan hak mereka dikembalikan.

 

“Kami hanya ingin gaji kami kembali utuh. Itu hasil kerja keras suami kami,” tegas salah satu korban.

 

Proses Hukum Terus Berjalan, Tersangka Dilimpahkan

 

Di sisi lain, proses hukum tetap berlanjut. Polres Padangsidimpuan telah menyerahkan tersangka utama, Risdianto Lubis (RL), beserta barang bukti ke Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan pada Selasa (7/4/2026).

 

Penyerahan tahap II ini dilakukan setelah berkas perkara dinyatakan lengkap (P21).

 

Kapolres Padangsidimpuan AKBP Wira Prayatna menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk komitmen kepolisian dalam menuntaskan perkara secara profesional.

 

“Setelah berkas dinyatakan lengkap, kami serahkan tersangka dan barang bukti ke jaksa untuk proses selanjutnya,” ujarnya.

 

Barang bukti yang diserahkan mencakup dokumen kredit, sertifikat tanah, hingga sejumlah mesin industri yang diduga terkait dengan modus operandi kasus ini.

 

Kini, 34 keluarga polisi hanya bisa bertahan di tengah ketidakpastian. Di satu sisi, hukum berjalan. Di sisi lain, kehidupan mereka sudah terlanjur hancur.

Baca Juga :  Polres Padangsidimpuan gencar sosialisasikan Pilkada Damai 2024 dan Program Asta Cita Presiden RI

 

Tangis mereka bukan sekadar cerita—ini adalah potret getir tentang bagaimana janji manis bisa berubah menjadi petaka panjang.

 

Dan di balik semua ini, satu pertanyaan besar masih menggantung.

 

 

Penulis : Kr03

Editor : Emas

Sumber Berita: KompasReal.id

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Akun TikTok Ucok Botol Soroti Dugaan Aktivitas PETI di Sipogu, APH Dipertanyakan
Polres Tapsel Ungkap Peredaran Sabu di Sipirok, Sita Barang Bukti 10 Gram dari Rumah Pelaku
Viral Isu ‘Beking’ Perambahan Hutan, Polres Tapsel: Itu Tidak Benar
Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan Bekuk Pengedar Sabu, Amankan Barang Bukti 1,13 Gram
Polres Padangsidimpuan Bekuk Pengedar Sabu 98 Gram, Residivis Diamankan di Kelurahan Timbangan
Misteri Data Judol Penerima Bansos di Tabagsel: Madina dan Paluta Terungkap, Bagaimana Padangsidimpuan, Palas dan Tapsel?
Klarifikasi Kapolsek Batang Toru: Penanganan Kasus Penganiayaan Berjalan Sesuai Prosedur dan Alat Bukti
Polisi Ungkap Kasus Pencurian dengan Pemberatan di Padangsidimpuan, Pelaku Ditangkap di Riau
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 21:44 WIB

Akun TikTok Ucok Botol Soroti Dugaan Aktivitas PETI di Sipogu, APH Dipertanyakan

Senin, 7 September 2026 - 15:08 WIB

Polres Tapsel Ungkap Peredaran Sabu di Sipirok, Sita Barang Bukti 10 Gram dari Rumah Pelaku

Jumat, 4 September 2026 - 12:08 WIB

Viral Isu ‘Beking’ Perambahan Hutan, Polres Tapsel: Itu Tidak Benar

Jumat, 4 September 2026 - 11:52 WIB

Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan Bekuk Pengedar Sabu, Amankan Barang Bukti 1,13 Gram

Kamis, 3 September 2026 - 12:04 WIB

Polres Padangsidimpuan Bekuk Pengedar Sabu 98 Gram, Residivis Diamankan di Kelurahan Timbangan

Berita Terbaru