Makam Sahabat Nabi di Barus, Tapanuli Tengah — Jejak Awal Islam di Nusantara

Redaksi

- Penulis

Selasa, 25 November 2025 - 20:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


 

KompasReal.com,Barus–sebuah kota tua di pesisir barat Sumatera Utara, sejak lama dikenal sebagai kawasan bersejarah yang menjadi pintu masuk berbagai bangsa ke Nusantara. Sebelum Masehi, Barus telah menjadi bandar niaga internasional yang menghubungkan pedagang dari Yunani, Persia, Arab, India, Tamil, hingga Tiongkok. Nama Barus—yang dalam berbagai literatur disebut Barousai, Fansur, atau Barus—tercatat dalam naskah Yunani, Siriah, Armenia, Arab, Melayu, hingga Jawa.

Salah satu bukti paling kuat tentang kejayaan dan kedatangan bangsa Arab pada masa awal Islam adalah keberadaan makam Islam kuno bertuliskan aksara Arab yang berusia sekitar abad ke-7 Masehi (40–50 Hijriah). Tingginya mencapai 1,5 meter, terbuat dari batu cadas besar, dan memuat tulisan Arab klasik. Melihat tarikh wafat dan konteks sejarah, para ahli menyimpulkan bahwa sebagian yang dimakamkan di Barus adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW atau tabi’in generasi sangat awal yang diutus untuk menyebarkan tauhid.

Tradisi lisan masyarakat Barus (turun-temurun) juga menguatkan keyakinan bahwa daerah ini adalah salah satu pintu masuk Islam pertama di Nusantara.


1. Makam Sahabat Nabi di Kompleks Papan Tinggi, Barus

Kompleks Papan Tinggi merupakan salah satu situs Islam tertua di Indonesia. Di sini terdapat makam Syekh Mahmud Fil Hadratul Maut, seorang ulama besar yang wafat sekitar 34–44 Hijriah.

Ciri-ciri nisan Syekh Mahmud

  • Tinggi sekitar 1,5 meter
  • Terbuat dari batu cadas besar
  • Aksara Arab kuno
  • Memuat kaligrafi ayat Al-Qur’an

Salah satu ukiran paling terkenal di nisannya berbunyi:

“Fa kullu syai’in hâlikun illâ wajhullah”
“Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat Allah.”

Menurut sejarawan Djamaluddin Batubara, dakwah Syekh Mahmud pada masa awal Islam di Barus masih menekankan ajaran tauhid, karena perintah syariat (seperti salat dan puasa) belum sepenuhnya diwajibkan kepada masyarakat yang baru mengenal Islam. Ayat yang dibawakan pun didominasi ayat-ayat Makkiyyah.

Baca Juga :  Kesehatan Mental: Kunci Kesejahteraan Hidup

2. Makam Mahligai – Barus Induk, Tapanuli Tengah

Kompleks Makam Mahligai terletak di bukit Desa Dakka, pada area seluas sekitar 3 hektar. Di sini terdapat ratusan makam kuno, diperkirakan mencapai 215 makam, dengan nisan besar dan kecil bergaya Timur Tengah.

Tokoh Utama: Syekh Rukunuddin

Salah satu makam penting adalah makam Syekh Rukunuddin, yang wafat pada:

  • 13 Syafar 48 Hijriah
  • Usia 102 tahun, 2 bulan, 10 hari

Nisan beliau bertuliskan aksara Arab kuno dengan keterangan “Ha Min Hijratun Nabiy”, yang menandakan masa hidup sangat dekat dengan periode Nabi Muhammad SAW. Salah satu nisan asli beliau kini disimpan di Museum Purbakala Medan untuk keperluan riset.

Syekh Rukunuddin dikenal sebagai penerus dakwah Syekh Mahmud dalam menyebarkan ajaran Islam di pesisir Barus dan wilayah Tapanuli.


Barus: Jejak Peradaban Islam Paling Awal di Nusantara

Keberadaan dua kompleks makam tua ini memberi kesaksian kuat bahwa Islam sudah hadir di Nusantara pada masa sangat awal, bahkan pada generasi sahabat Nabi. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Barus bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan pusat peradaban yang menjadi gerbang awal penyebaran Islam di kepulauan Melayu.KR03


 

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai
Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”
Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara
Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan
Ketika Lapar Menjadi Terapi: Rahasia Perbaikan Tubuh dari Dalam Sel
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Ketika Alam Membalas: Bencana Sumatera dan Luka yang Tidak Lagi Bisa Ditutup
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 19:26 WIB

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:32 WIB

Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:07 WIB

Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara

Sabtu, 3 Januari 2026 - 21:37 WIB

Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

Minggu, 28 Desember 2025 - 16:27 WIB

Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB