KompasReal.com, Dari kata benda “tari” lahir kata kerja “menari” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai gerak tubuh berirama, kerap diiringi bunyi-bunyian. Pada manusia, kemampuan menari berkait erat dengan kecerdasan mengolah gerak tubuh agar selaras dengan irama. Karena itu, menari kerap dipahami sebagai ekspresi estetik sekaligus budaya yang sangat manusiawi.
Namun, seni tari sejatinya tidak sepenuhnya menjadi monopoli manusia. Alam memperlihatkan bahwa banyak makhluk hidup lain yang melakukan gerakan tubuh berulang, teratur, dan atraktif, sehingga bagi mata manusia tampak seperti tarian. Gerak-gerik ini memang bukan seni dalam pengertian kultural, tetapi fungsi biologisnya tak kalah penting.
Di dunia burung, misalnya, burung cenderawasih, merak, dan manakin terkenal dengan ritual kawin yang menyerupai tarian. Burung cenderawasih jantan memamerkan bulu dan gerak tubuh yang rumit, merak mengembangkan ekornya sambil berputar, sementara manakin menampilkan lompatan dan bunyi sayap yang ritmis. Semua itu bertujuan menarik perhatian betina melalui seleksi seksual.
Fenomena serupa juga tampak pada mamalia dan makhluk laut. Lumba-lumba kerap melompat dan berenang berirama dalam interaksi sosialnya. Beruang kutub dan kuda liar melakukan gerakan tubuh tertentu saat musim kawin untuk menunjukkan dominasi, kekuatan, dan kesiapan reproduksi. Gerakan-gerakan ini, walau naluriah, terlihat seolah koreografi alam.
Dunia serangga dan reptil pun menyimpan kisah serupa. Beberapa jenis lalat melakukan “tarian udara” sebelum kawin, bahkan sambil membawa hadiah bagi betina. Kura-kura laut jantan bergerak memutar dan menggoyangkan tubuhnya di dalam air sebagai bagian dari ritual kawin. Lebah madu melangkah lebih jauh dengan “tarian” khusus sebagai bahasa komunikasi untuk menunjukkan arah dan jarak sumber makanan.
Perlu dipahami, satwa tidak menari karena memahami musik atau irama seperti manusia. Gerakan tersebut bersifat naluriah dan fungsional, dipicu hormon serta mekanisme seleksi alam. Istilah “menari” di sini lebih merupakan cara antropomorfik manusia untuk memahami dan menggambarkan keindahan perilaku alam.
Bahkan imajinasi manusia turut merayakan gagasan ini, seperti tokoh Groot dalam film Guardians of the Galaxy yang gemar menari diam-diam. Meminjam judul lagu Ebiet G. Ade, rumput pun seolah bergoyang ketika ditiup angin sepoi-sepoi. Alam, dengan caranya sendiri, ternyata tak pernah berhenti “menari”.KR03













