Paradoks Kenyamanan Sosial: Mengapa Kita Tenang Hidup Bersama Penjahat Besar, Namun Gelisah oleh Pelaku Kejahatan Kecil?”

Redaksi

- Penulis

Minggu, 9 November 2025 - 13:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com,KR03 Dalam dinamika sosial modern, terdapat sebuah paradoks psikologis yang sering kali luput dari pembahasan publik: masyarakat tampak lebih tenang hidup berdampingan dengan pelaku kejahatan berskala besar—koruptor, bandar judi, hingga bandar narkoba—tetapi merasa sangat terganggu oleh pelaku kejahatan kecil seperti maling ayam atau pencuri jemuran. Fenomena ini bukan sekadar anomali moral, melainkan cerminan rumit dari persepsi, struktur sosial, serta konstruksi psikologis yang terbentuk oleh pengalaman kolektif.

Secara psikologis, kejahatan kecil memiliki tingkat immediacy yang lebih tinggi. Ia menyentuh keseharian masyarakat, masuk langsung ke pekarangan rumah, merusak rasa aman yang paling mendasar. Ketika ayam hilang atau pakaian raib, korban merasakan dampak konkret dan personal. Sebaliknya, kejahatan besar terasa abstrak karena efeknya bersifat sistemik dan tidak langsung. Masyarakat tahu dampaknya besar, namun tidak selalu merasakan luka itu pada harta atau ruang hidupnya secara langsung, sehingga ancaman terasa lebih jauh dan samar.

Selain itu, aktor kejahatan berskala besar sering kali beroperasi dalam ruang sosial yang “tertata”. Mereka memiliki kekuasaan, fasilitas, dan jejaring yang membuat mereka tampil rapi, sopan, dan bahkan terhormat. Secara psikologis, manusia cenderung lebih menerima sosok yang menampilkan citra “terintegrasi dengan sistem”. Sementara pelaku kejahatan kecil kerap muncul dari kelompok sosial yang tampak rentan, acak, dan dekat dengan kehidupan warga. Dalam konteks ini, ancaman terasa lebih nyata karena jarak sosialnya lebih dekat.

Kondisi ini juga diperkuat oleh konstruksi budaya yang secara halus mengajarkan masyarakat bahwa kejahatan besar adalah urusan negara atau aparat, sementara kejahatan kecil adalah ancaman langsung terhadap ruang personal. Kasus korupsi miliaran rupiah mungkin mengganggu logika moral masyarakat, tetapi tidak cukup mengguncang rasa aman fisik dan emosional seseorang. Namun ketika sehelai pakaian lenyap, masyarakat merasa harga dirinya dilukai, martabatnya direndahkan, dan batas privasinya ditembus.

Baca Juga :  Selain untuk Masakan dan Kesehatan, Garam juga Memiliki Manfaat di Sekitar Rumah

Tak dapat dipungkiri, media juga memainkan peran krusial dalam membentuk persepsi. Ekspos kejahatan kecil sering kali dikemas dramatis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, memperkuat narasi bahwa maling ayam lebih mengancam ketenangan lingkungan dibanding bandar judi yang bertransaksi di balik layar. Sementara koruptor tampil dengan jas rapi dan senyum di kamera, pencuri kecil tampak lusuh dan mudah disalahkan. Representasi visual ini menciptakan bias psikologis yang sulit dihindari.

Pada akhirnya, paradoks kenyamanan ini menyingkap masalah yang lebih mendasar: masyarakat telah lama hidup dalam kondisi “adaptasi patologis”, yaitu kebiasaan menerima kejahatan besar sebagai sesuatu yang wajar, sementara begitu sensitif terhadap gangguan kecil. Ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam sistem hukum, edukasi publik, dan kebiasaan sosial dalam menilai ancaman. Ketika pelaku kejahatan besar dianggap bagian dari struktur, maka masyarakat merasa tak berdaya; tetapi terhadap pelaku kejahatan kecil, masyarakat merasa mampu menegakkan reaksi langsung.

Paradoks ini seharusnya menjadi refleksi kolektif. Sebuah masyarakat yang sehat tidak boleh terbiasa berdamai dengan kejahatan besar, sementara memelihara ketakutan irasional terhadap pelaku minor. Keadilan dan rasa aman hanya dapat tegak jika persepsi publik dipulihkan melalui penegakan hukum yang konsisten, edukasi moral yang berimbang, serta ruang publik yang tidak membiarkan kejahatan—besar maupun kecil—mendapat toleransi berbeda. Tanpa itu, kita hanya akan terus hidup dalam ilusi kenyamanan, sambil mengabaikan bahaya yang sebenarnya lebih menggerogoti bangsa dari dalam.edy siregar

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai
Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”
Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara
Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan
Ketika Lapar Menjadi Terapi: Rahasia Perbaikan Tubuh dari Dalam Sel
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Ketika Alam Membalas: Bencana Sumatera dan Luka yang Tidak Lagi Bisa Ditutup
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 19:26 WIB

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:32 WIB

Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:07 WIB

Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara

Sabtu, 3 Januari 2026 - 21:37 WIB

Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

Minggu, 28 Desember 2025 - 16:27 WIB

Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB