Siti Manggopoh: Singa Betina Perang Belasting yang Membara di Hutan Sejarah

Redaksi

- Penulis

Kamis, 25 Desember 2025 - 09:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com, Latar Belakang dan Masa Kecil
Siti Manggopoh,sang “Singa Betina Ranah Minang”, lahir pada 15 Juni 1881 di Nagari Manggopoh, Kabupaten Agam. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya perempuan dari enam bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan yang keras namun penuh semangat belajar. Meski akses pendidikan formal terbatas, Siti tak gentar menimba ilmu di surau bersama kelima kakaknya, mendalami ajaran agama, dan bahkan menguasai ilmu bela diri, membentuk fondasi karakter pemberani dan teguh.

Konteks Penderitaan Rakyat Minangkabau
Perjuangannya bermula dari kepedihan rakyat Minangkabau yang tertindas di bawah cengkeraman ekonomi kolonial Belanda.Pajak yang mencekik leher (belasting) dan monopoli atas tanah adat telah menginjak-injak martabat serta kedaulatan masyarakat. Pelanggaran terhadap Perjanjian Plakat Panjang yang seharusnya melindungi hak-hak mereka semakin memantik api kemarahan di hati rakyat, termasuk Siti.

Pemicu dan Persiapan Pemberontakan
Puncak kezaliman itu akhirnya meledak menjadi perlawanan terorganisir.Perasaan harga diri yang terus diinjak-injak memicu Siti, yang kemudian dijuluki Mande Siti, untuk bergerak. Bersama para pemuda militan, ia membentuk badan perjuangan beranggotakan 16 orang, menyusun strategi untuk melawan ketidakadilan yang telah merampas kemakmuran dan harga diri rakyatnya.

Perang Manggopoh dan Aksi Heroik
Pada 16 Juni 1908,meletuslah Perang Manggopoh atau Perang Belasting. Dengan kepemimpinan yang cemerlang, Mande Siti memimpin serangan tak terduga. Dalam sebuah operasi berani, ia menyusup ke markas Belanda yang sedang berpesta, memberi isyarat, dan memulai serbuan mendadak yang mematikan. Aksi itu berhasil menewaskan 53 serdadu Belanda tanpa satu pun korban dari pihak pejuang.

Dampak Perlawanan dan Pengorbanan
Kemenangan gemilang itu dibayar mahal.Pasukan Marsose Belanda membalas dengan membumi-hanguskan kampung Manggopoh. Siti Manggopoh bersama anaknya, Muhammad Yaman, terpaksa melanjutkan perjuangan secara gerilya di hutan. Setelah 17 hari diburu, demi melindungi rakyatnya dari pembalasan yang lebih kejam, ia memilih menyerah dengan kepala tegak, sebuah keputusan penuh pengorbanan yang menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

Baca Juga :  Buaya Teror Warga Pasar Batahan, Kambing Hampir Korban Mangsa

Masa Penjara dan Pengakuan Pasca Kemerdekaan
Siti Manggopoh menghabiskan beberapa tahun dalam penjara kolonial.Setelah Indonesia merdeka, perjuangannya mulai diakui. Meski belum menyandang gelar Pahlawan Nasional secara resmi, pemerintah melalui SK Menteri Sosial RI menetapkannya sebagai Perintis Kemerdekaan pada tahun 1964, sebuah pengakuan atas jasanya mengobarkan semangat melawan penjajahan.

Siti Manggopoh wafat pada 20 Agustus 1965.Namanya mungkin tak seharum pahlawan perempuan lain dalam narasi besar sejarah nasional, namun kisah keteguhan, kecerdikan strategi, dan keberaniannya yang membara tetaplah abadi. Ia adalah simbol perlawanan akar rumput yang gigih, pengingat bahwa api kemerdekaan juga menyala dari perlawanan-perlawanan lokal yang hampir terlupakan, namun tak pernah padam.

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Geger Penemuan Mayat Terbakar di Sekotong Lombok Barat, Polisi Selidiki Identitas dan Penyebabnya
Ratusan Anak Korban Banjir di Pematangsiantar Terima Paket Pendidikan dari Relawan Lokal
Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulsel: Tak Ada Korban Selamat, Evakuasi Masih Berlangsung
Keampuhan Starlink Ternoda: Iran Buktikan Kedaulatan Digital di Medan Perang Frekuensi
Dua Rumah Warga Terbakar di Andilan Dua Koto, Diduga Akibat Arus Listrik
Takdir Menyapa dengan Sopan
Snoop Dogg Gebrak Medsos dengan Foto AI Nongkrong ala Warkop Indonesia
Sejarah Tak Terlupakan: Ketika Tawaf Dilakukan dengan Berenang Mengelilingi Ka’bah
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:21 WIB

Geger Penemuan Mayat Terbakar di Sekotong Lombok Barat, Polisi Selidiki Identitas dan Penyebabnya

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:59 WIB

Ratusan Anak Korban Banjir di Pematangsiantar Terima Paket Pendidikan dari Relawan Lokal

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:40 WIB

Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulsel: Tak Ada Korban Selamat, Evakuasi Masih Berlangsung

Sabtu, 17 Januari 2026 - 23:02 WIB

Keampuhan Starlink Ternoda: Iran Buktikan Kedaulatan Digital di Medan Perang Frekuensi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 16:44 WIB

Dua Rumah Warga Terbakar di Andilan Dua Koto, Diduga Akibat Arus Listrik

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB