KompasReal.id, Publik dibuat geram oleh pengakuan ayah kandung Nizam yang menyebut keputusannya menjauhkan anak dari ibu kandungnya sebagai langkah “demi kebaikan”. Dengan alasan agar Nizam fokus belajar dan tidak “mindset-nya bercabang”, sang ayah justru memutus akses kasih sayang seorang ibu selama bertahun-tahun. Ironisnya, keputusan itu kini dipertanyakan keras setelah Nizam berakhir tewas secara mengenaskan.
Lebih menyayat hati lagi, demi dalih menjaga psikis anak, ayah Nizam mengaku mengatakan kepada sang buah hati bahwa ibu kandungnya telah meninggal dunia. Padahal, faktanya Ibu Lisna masih hidup dan selama ini terus berusaha mencari serta ingin bertemu dengan anaknya. Kebohongan itu menjadi sorotan tajam publik karena dinilai sebagai bentuk manipulasi emosional yang berdampak panjang pada kondisi mental anak.
Dalam klarifikasinya, sang ayah berdalih tidak pernah melarang komunikasi. Ia bahkan menyebut jika sang ibu benar-benar menyayangi anaknya, seharusnya datang langsung, bukan hanya melalui telepon atau video call. Menurutnya, kehadiran mendadak sang ibu justru bisa mengganggu kondisi psikis Nizam yang disebutnya perlu stabilitas untuk belajar dan tumbuh.
Namun pernyataan itu berbanding terbalik dengan pengakuan ibu Nizam. Ia menyebut selama tujuh tahun tidak diberi kesempatan bertemu, bahkan keberadaan anaknya diduga sempat disembunyikan. Fakta bahwa Nizam tinggal satu atap dengan ibu tiri yang disebut-sebut melakukan penyiksaan semakin menambah luka dalam tragedi ini.
Kini masyarakat mempertanyakan: di mana letak “kebaikan” yang dimaksud? Ketika alasan pendidikan dan psikis dijadikan tameng, tetapi berujung pada hilangnya nyawa seorang anak, publik menilai ini bukan lagi soal perbedaan pola asuh—melainkan kegagalan perlindungan yang tragis.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: Jurnalis,citizen,













