Ketika Alam Membalas: Bencana Sumatera dan Luka yang Tidak Lagi Bisa Ditutup

Redaksi

- Penulis

Jumat, 5 Desember 2025 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KompasReal.com,Akhir-akhir ini, Sumatera kembali menangis. Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan yang merata seolah menjadi rutinitas tahunan—sebuah ironi yang seharusnya tak pernah terjadi di tanah yang dahulu dikenal hijau, kaya, dan subur. Sebagai jurnalis, saya sulit bersikap netral dalam melihat kenyataan ini. Bukan karena emosional tanpa arah, tetapi karena fakta di lapangan berbicara lebih keras dari sekadar pernyataan pejabat. Bencana ini bukan semata-mata musibah alam, melainkan akibat dari luka besar yang kita buat sendiri.

Pembalakan liar, tambang yang merajalela, ekspansi kebun sawit, hingga perusahaan bubur kertas yang menggerogoti hutan tanpa kontrol—semua menjadi mata rantai penyebab kehancuran yang tidak bisa lagi kita tutupi. Hutan yang hilang berarti hilangnya benteng terakhir penahan banjir dan longsor. Ketika hujan turun deras, air tak lagi punya tempat bermuara, ia hanya mengalir liar mencari ruang hingga akhirnya meluluhlantakkan pemukiman penduduk. Kita memotong akar dari kehidupan, lantas bertanya mengapa tanah tak lagi kuat menahan tubuhnya sendiri.

Para pengamat lingkungan sudah berteriak bertahun-tahun. Tokoh agama pun mengingatkan, bahwa kerusakan alam adalah akibat ulah tangan manusia yang serakah—manusia yang diberi kuasa, namun menggunakannya bukan untuk menjaga bumi, melainkan mengekstraksi isi perutnya sampai habis. Bahwa bencana bukan murka Tuhan semata, tapi konsekuensi logis ketika manusia menantang keseimbangan yang sudah diciptakan dengan sempurna. Alam hanya mengembalikan apa yang kita tabur.

Di sisi lain, pemerintah kerap tampil dengan narasi klise: cuaca ekstrem. Seolah semua persoalan selesai dengan satu kalimat itu. Bahkan terkadang, pernyataan yang keluar justru terdengar menggelikan di telinga rakyat yang rumahnya hanyut, ladangnya tertimbun lumpur, atau keluarganya hilang tak kembali. Rakyat butuh pemimpin yang jujur mengakui akar masalah, bukan sekadar membaca naskah aman. Kita tidak sedang membutuhkan penjelasan yang menenangkan, tetapi tindakan nyata yang menyelamatkan.

Baca Juga :  Perundungan (Bullying): Ancaman Serius bagi Kesehatan Mental dan Sosial

Harapan masyarakat hanya satu: tinjau ulang semua izin HGU, evaluasi perusahaan sawit, tambang, dan pabrik bubur kertas yang beroperasi tanpa kontrol ekologis. Jika pemerintah benar ingin menghentikan siklus bencana, maka reformasi kebijakan lingkungan bukan lagi opsi, tapi kewajiban. Hutan yang tersisa harus diselamatkan, yang hilang harus dikembalikan. Tanpa itu, Sumatera akan terus menjadi panggung duka yang berulang setiap musim hujan.

Bencana ini bukan sekadar berita, bukan pula statistik. Ini adalah peringatan keras bahwa alam telah mencapai batas sabarnya. Jika kita tidak segera berubah, maka Sumatera bukan hanya kehilangan hutan dan sungainya—tapi masa depan generasi yang akan menanggung semua kerusakan yang tidak mereka buat. Sudah saatnya kita berhenti pura-pura tidak tahu. Sebab ketika alam membalas, tidak ada yang bisa berkata bahwa kita tidak diperingatkan.KR03

Follow WhatsApp Channel kompasreal.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai
Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”
Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara
Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan
Ketika Lapar Menjadi Terapi: Rahasia Perbaikan Tubuh dari Dalam Sel
Hari HAM Sedunia: 400 Warga Menggantung Tanpa Kepastian Hukum
Kisah Cinta Putri Jiro Asri Kirtiasa: Dari Sydney ke Kerajaan Bali, Cinta Menembus Batas Tradisi
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 23 Februari 2026 - 19:26 WIB

Perahu Kecil, Harimau Besar, dan Keberanian Seorang Dokter di Tengah Sungai

Sabtu, 17 Januari 2026 - 19:32 WIB

Keluarga Sehat Bukan Hanya Soal Makanan: Studi Buktikan Aktivitas Outdoor 2 Jam Seminggu Kunci Hubungan Harmonis”

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:07 WIB

Potensi Herbal dalam Pendekatan Komplementer Pengobatan Tumor Payudara

Sabtu, 3 Januari 2026 - 21:37 WIB

Ketika Alam Ikut Bergoyang Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

Minggu, 28 Desember 2025 - 16:27 WIB

Dari Juara Bumi ke Darurat Kemanusiaan: Sumatera, Lingkungan, dan Hilangnya Keteladanan

Berita Terbaru

Nasional

Derita di Jalur Darah: Kisah Pemudik Lintas Sumatera 2026

Sabtu, 21 Mar 2026 - 00:08 WIB

Mimbar jumat

Menjaga “Lentera” Ramadhan: Dari Musim ke Gaya Hidup

Jumat, 20 Mar 2026 - 13:38 WIB