KompasReal.com, Gelombang protes antipemerintah di Iran yang dimulai akhir Desember 2025 akibat krisis ekonomi (inflasi tinggi dan nilai rial anjlok) telah menewaskan ribuan demonstran, dengan estimasi dari kelompok hak asasi seperti HRANA mencapai lebih dari 2.600-3.000 korban tewas hingga pertengahan Januari 2026.
Rezim Iran lakukan crackdown brutal dengan penangkapan massal (lebih dari 19.000 orang), pemadaman internet nasional, dan penggunaan kekerasan ekstrem, menyebabkan demonstrasi mereda sejak 15 Januari – meski situasi tetap volatile dan warga khawatir akan eskalasi baru.
Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tuding protes sebagai hasil campur tangan asing (AS dan Israel), sementara Presiden AS Donald Trump sempat ancam intervensi militer jika eksekusi demonstran berlanjut, meski kini tampak mundur setelah laporan korban tewas berhenti.
Situasi ini picu fluktuasi harga minyak dunia karena Iran adalah produsen besar, dengan potensi naiknya harga impor energi ke Indonesia dan inflasi domestik jika ketegangan berlanjut atau ada eskalasi militer di Teluk Persia.
Kemlu RI pantau ketat kondisi WNI di Iran, sementara pemerintah Indonesia imbau warga tetap waspada – krisis ini juga jadi peringatan global tentang dampak ekonomi politik internal terhadap stabilitas regional.
Pengamat internasional nilai rezim Iran berhasil tekan protes sementara melalui kekerasan, tapi akar masalah ekonomi belum terselesaikan, sehingga potensi gelombang baru tetap ada di masa depan.KR03
⁹













