KompasReal.id, PASAMAN – Kompasreal.com– Di tengah semangat pembangunan yang diusung melalui program Pasaman Bangkit, kondisi Taman Wisata Alam (TWA) Rimbo Panti justru menyisakan tanda tanya besar. Salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pasaman yang selama ini dikenal dengan pemandian air panas alami serta keanekaragaman hayatinya itu kini terlihat kurang terawat, dipenuhi sampah, dan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan.
Temuan tersebut terungkap dari hasil investigasi lapangan yang dilakukan LSM P2NAPAS di kawasan wisata yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Pasaman tersebut. Dari dokumentasi dan pengamatan langsung di lapangan, kondisi kebersihan dan pemeliharaan kawasan dinilai jauh dari harapan sebagai destinasi wisata yang menjadi kebanggaan daerah.
Pada pintu masuk kawasan, papan identitas objek wisata terlihat kusam, dipenuhi lumut, dan mengalami penurunan kondisi fisik akibat kurangnya perawatan. Padahal, keberadaan papan informasi dan fasilitas penunjang merupakan bagian penting yang mencerminkan kualitas pengelolaan suatu destinasi wisata.
Tidak hanya itu, tim investigasi juga menemukan tumpukan sampah plastik dan limbah non-organik yang berserakan di sejumlah titik kawasan wisata. Sampah yang dibiarkan menumpuk di sekitar area hutan tersebut tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi mencemari kawasan konservasi yang selama ini menjadi daya tarik utama Rimbo Panti.
Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat pada fasilitas umum yang tersedia bagi pengunjung. Sejumlah sarana pendukung tampak kurang terawat dan membutuhkan perhatian serius dari pihak pengelola. Bahkan, tempat ibadah yang berada di dalam kawasan wisata juga terlihat mengalami kerusakan dan minim pemeliharaan.
Bangunan tempat ibadah yang semestinya menjadi sarana penting bagi wisatawan untuk beribadah tampak kusam, lingkungan sekitarnya kurang terjaga kebersihannya, serta beberapa bagian bangunan menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat tidak adanya perawatan yang memadai. Kondisi tersebut tentu tidak sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan wisata yang selama ini diharapkan masyarakat.
Ketua Umum LSM P2NAPAS, Ahmad Husein Batu Bara, menilai kondisi TWA Rimbo Panti saat ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kawasan konservasi tersebut.
> “Rimbo Panti merupakan salah satu aset wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Pasaman. Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan yang harus segera dibenahi, mulai dari kebersihan lingkungan, pemeliharaan fasilitas, hingga kondisi tempat ibadah yang seharusnya menjadi perhatian utama. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan berdampak terhadap citra pariwisata daerah,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan sektor pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan atau besarnya promosi yang dilakukan pemerintah, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas publik dan lingkungan wisata dapat terpelihara dengan baik.
LSM P2NAPAS meminta Pemerintah Kabupaten Pasaman, Dinas Pariwisata, serta BKSDA untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kawasan TWA Rimbo Panti. Langkah konkret seperti pembersihan kawasan, perbaikan fasilitas yang rusak, rehabilitasi tempat ibadah, penyediaan sarana pengelolaan sampah, serta peningkatan pengawasan dan pemeliharaan rutin dinilai sangat mendesak untuk dilakukan.
Selain itu, transparansi terkait program pengelolaan dan pemeliharaan kawasan wisata juga perlu disampaikan kepada masyarakat agar publik mengetahui langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan dalam menjaga salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Pasaman tersebut.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan bukan hanya menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung, tetapi juga berpotensi mengurangi kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Padahal, TWA Rimbo Panti memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat yang mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Satu tahun Pasaman Bangkit seharusnya menjadi momentum pembenahan nyata. TWA Rimbo Panti membutuhkan aksi konkret, bukan sekadar slogan. Kebersihan kawasan, kelayakan fasilitas, dan kenyamanan pengunjung harus menjadi prioritas agar destinasi wisata kebanggaan masyarakat Pasaman ini kembali hidup, terawat, dan mampu bersaing sebagai tujuan wisata unggulan di Sumatera Barat.
(Edriadi Lubis)
Penulis : Edriadi lubis
Editor : Emas












