KompasReal.id, Aksi mulia Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, Kapolrestabes Surabaya, baru-baru ini menjadi sorotan publik. Bukan karena penangkapan besar atau operasi berskala luas, melainkan karena pendekatan humanisnya terhadap seorang mahasiswi yang terpaksa mencuri karena kelaparan. Peristiwa ini bermula ketika Luthfie memediasi pertemuan antara pelaku dan korban di kantornya, mengedepankan rasa empati di balik proses hukum yang sedang berjalan.
Dalam momen mediasi tersebut, Kombes Luthfie dengan tenang menggali alasan di balik perbuatan nekat yang dilakukan mahasiswi itu. “Ceritanya terpaksa apa bagaimana kon sampai mencuri?” tanyanya dalam dialek akrab. Pelaku hanya menjawab lirih, “Tidak ada uang.” Korban pun menyatakan ikhlas menyelesaikan perkara secara kekeluargaan, sementara mahasiswi itu tak kuasa menahan tangis haru dan penyesalan di hadapan aparat yang justru menghiburnya.
Belakangan, fakta mengejutkan mulai terungkap. Mahasiswi tersebut ternyata bukan sosok sembarangan. Ia adalah mahasiswa berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,85. Di balik angka cemerlang itu, tersimpan pergulatan ekonomi yang pahit. Ayahnya buruh tani, ibunya ibu rumah tangga, dan ia harus bertahan hidup dengan uang pas-pasan—bahkan pernah hanya bermodalkan Rp200 dalam sebulan. Kondisi ekstrem inilah yang mendorongnya mengambil jalan pintas yang keliru.
Mendengar perjuangan dan latar belakang pelaku, Luthfie tak tinggal diam. Dengan tegas ia menawarkan bantuan pribadi untuk biaya kos dan kebutuhan sehari-hari mahasiswi tersebut, asalkan ia terus rajin belajar dan menyelesaikan pendidikannya. “Nanti saya bantu biaya kosan dan lain-lain, yang penting rajin belajar,” janjinya. Sosok polisi berpangkat kombes itu memilih untuk merangkul daripada menghakimi.
Kisah ini menjadi cermin bahwa hukum tidak selalu harus tajam ke bawah, tetapi bisa pula lentur mengayomi. Aksi Kombes Luthfie membuktikan bahwa di balik seragam dan pangkat, masih ada hati yang peka terhadap denyut nadi rakyat kecil. Respons warganet yang membanjiri media sosial menunjukkan publik rindu akan wajah kepolisian yang humanis, yang tidak hanya menegakkan aturan tetapi juga menegakkan martabat kemanusiaan.
Penulis : Kr03
Editor : EMAS
Sumber Berita: Tribun.com












